Edukasi Literasi Digital dan Wawasan Kebangsaan di Masjid Al-Huda Nabire
Tim Preventif Densus 88 Anti Teror (AT) Polri Wilayah Papua menggelar kegiatan edukasi literasi digital dan wawasan kebangsaan di Masjid Al-Huda, Nabire, pada Sabtu (14/3/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk membentengi para santri dari propaganda radikalisme yang tersebar melalui media sosial dan perangkat ponsel pintar.
Tujuan utama dari kegiatan ini adalah memberikan pemahaman kepada generasi muda tentang penggunaan teknologi informasi secara sehat. Hal ini dilakukan guna menangkal arus informasi negatif yang sering kali menjadi sumber penyebaran narasi ekstremis. Anak-anak, khususnya santri, merupakan kelompok yang paling rentan terpapar konten radikalisme melalui media digital.
Dalam kegiatan tersebut, para santri diberikan simulasi bagaimana memverifikasi informasi yang diterima melalui aplikasi percakapan dan media sosial. Selain itu, mereka juga mendapatkan materi tentang penguatan rasa nasionalisme dan cinta tanah air. Dengan demikian, diharapkan generasi muda di Nabire dapat menjadi agen perdamaian yang menyebarkan konten positif di lingkungan mereka.
Peran Kolaborasi dalam Menangkal Radikalisme
Keberhasilan menangkal radikalisme sangat bergantung pada kolaborasi antara aparat keamanan dan tokoh masyarakat di akar rumput. Kehadiran Tim Densus 88 di Masjid Al-Huda Nabire menjadi bukti komitmen institusi keamanan dalam menjaga kestabilan masyarakat.
Ustaz Munadi, pengurus Masjid Al-Huda Nabire, mengapresiasi langkah Densus 88 dalam memberikan edukasi yang sangat bermanfaat bagi para santri. Ia menilai bahwa edukasi mengenai cara menggunakan handphone dengan lebih bijak sangat krusial agar anak-anak tidak salah arah dalam menyerap informasi.
“Kegiatan ini juga bertujuan menciptakan imunitas bagi santri agar mampu menolak narasi ekstremis secara mandiri,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya penggunaan internet yang bijak karena pola rekrutmen kelompok radikal kini sering memanfaatkan celah kelalaian di ruang digital.
Di era digital, setiap pengguna smartphone dituntut memiliki kecerdasan dalam menyerap narasi yang berpotensi memecah belah moderasi beragama. Oleh karena itu, penanaman nilai-nilai moderasi sejak dini sangat diperlukan sebagai modal penting untuk menciptakan pribadi yang tidak mudah terprovokasi isu terorisme.
Dukungan dari Tokoh Agama
Ustaz Munadi juga mengapresiasi langkah preventif Polri dalam membina karakter anak-anak di wilayah Bumi Wonorejo. Ia menilai bahwa bimbingan wawasan kebangsaan sangat membantu para pendidik dalam menanamkan pemahaman agama yang damai.
Ia berharap kegiatan pembekalan karakter ini dapat dilaksanakan secara berkesinambungan di berbagai institusi pendidikan lainnya. “Kami juga mendukung Densus 88 dalam menjalankan tugas menjaga kedaulatan negara dari ancaman teror,” tandasnya.
Pemanfaatan Teknologi untuk Keamanan
Selain penguatan nilai-nilai kebangsaan, kegiatan ini juga menekankan pentingnya literasi digital. Para santri diajarkan bagaimana membedakan informasi yang benar dan yang palsu, serta cara menghindari konten berbahaya yang bisa memengaruhi pikiran mereka.
Dengan adanya simulasi dan pelatihan langsung, para santri diharapkan mampu memahami risiko yang ada di dunia digital dan menjaga diri dari pengaruh negatif. Hal ini akan menjadi fondasi kuat dalam membangun masyarakat yang lebih aman dan harmonis.
Kesimpulan
Kegiatan edukasi literasi digital dan wawasan kebangsaan yang dilakukan oleh Tim Densus 88 AT Polri Wilayah Papua di Masjid Al-Huda Nabire menjadi contoh nyata upaya pencegahan radikalisme melalui pendidikan. Dengan kolaborasi antara aparat keamanan dan tokoh masyarakat, diharapkan generasi muda dapat tumbuh menjadi individu yang tangguh, bijak, dan berkontribusi positif bagi bangsa.













