Persiapan Rukyatul Hilal untuk Menentukan Awal Syawal 1447 H di Kabupaten Pati
Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pati telah mematangkan persiapan pelaksanaan Rukyatul Hilal, yang bertujuan untuk menentukan awal bulan Syawal 1447 H. Kegiatan tahunan ini akan dilaksanakan di MTS Abadiyah, Desa Kuryokalangan, Kecamatan Gabus, pada hari Kamis (19/3/2026) sore pukul 17.00 WIB.
Lokasi Pemantauan yang Dipilih
Kasi Bimas Islam Kemenag Pati, Muhammad Ahsin, menjelaskan bahwa pemilihan lokasi di MTS Abadiyah didasarkan pada hasil observasi tim ahli falak yang dinilai lebih representatif dibandingkan titik-titik sebelumnya. Ia mengungkapkan bahwa di masa lalu, tim rukyat Pati sering bergabung dengan daerah lain seperti Rembang, Jepara, hingga Kudus karena keterbatasan lokasi dan alat.
“Sebelumnya kita sering ‘nebang’ di daerah tetangga. Setelah observasi mandiri, wilayah utara Pati tidak memungkinkan karena terhalang Gunung Muria, sementara di pusat kota, pernah di lantai tertinggi Hotel Safin, terhalang Bukit Pati Ayam,” ujarnya.
Ahsin juga menyebutkan bahwa pihaknya pernah mencoba di Sukolilo dan Sukobubuk (Kecamatan Margorejo). Meskipun lokasinya tergolong representatif, terkendala akses jalan yang ekstrem serta risiko kerusakan alat saat transportasi.
“Sejak penentuan Syawal tahun lalu, kami di MTs Abadiyah. Tapi untuk tahun depan, kami kemarin survei tempat di RSUD Kayen, itu lantai 6 layak juga. Kemungkinan… ini baru kemungkinan, tahun depan pindah tempat di RSUD Kayen,” katanya.
Pengadaan Alat yang Lebih Canggih
Meski saat ini peralatan yang dimiliki Kemenag Pati sudah memadai, Ahsin berharap adanya dukungan anggaran dari Pemerintah Daerah (Pemda) untuk pengadaan alat yang lebih canggih di masa mendatang, mencontoh langkah yang telah dilakukan Pemda Rembang.
“Alat kami saat ini harganya sekitar 20 juta rupiah, sudah memadai. Namun jika ingin hasil yang lebih tajam dan canggih, memang perlu dukungan anggaran hingga ratusan juta dari Pemda,” jelasnya.
Kolaborasi Berbagai Pihak
Pelaksanaan rukyatul hilal kali ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, mulai dari MUI, PCNU, Muhammadiyah, hingga institusi pendidikan seperti Salafiyah dan STAI. Meskipun Muhammadiyah telah menetapkan 1 Syawal berdasarkan metode hisab, Ahsin menegaskan bahwa ormas Islam tersebut tetap dilibatkan dan direncanakan hadir dalam pemantauan bersama di lapangan.
Data Teknis tentang Posisi Hilal
Terkait data teknis, Ahsin mengungkapkan bahwa posisi hilal di Pati saat ini masih berada di bawah kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). Berdasarkan perhitungan hisab, ketinggian hilal di Pati hanya mencapai 1,47 derajat dengan elongasi 5 derajat lebih.
“Secara hisab, kemungkinan hilal terlihat di Pati sangat kecil karena masih di bawah standar MABIMS, yaitu tinggi 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Kita mungkin akan bergantung pada laporan dari wilayah barat seperti Sumatra atau Aceh yang posisi hilalnya lebih tinggi,” tuturnya.
Harapan untuk Kebersamaan
Namun, secara pribadi, Ahsin berharap ada daerah yang bisa melihat hilal sehingga nantinya Idulfitri yang ditetapkan pemerintah bisa berbarengan dengan Muhammadiyah.
“Karena saya suka kebersamaan, suka suasana damai, jadi saya berdoa ya nanti ada yang berhasil melihat hilal. Muhammadiyah walaupun sudah memutuskan, saya inginnya nanti pemerintah ketika sidang isbat itu ada satu daerah yang berhasil melihat hilal demi kebersamaan lah,” ungkap dia.
Imbauan untuk Toleransi
Menutup keterangannya, Ahsin mengimbau masyarakat Kabupaten Pati untuk mengedepankan sikap saling menghargai jika nantinya terdapat perbedaan hari raya antara pemerintah dan ormas tertentu.
“Intinya adalah toleransi. Jika ada perbedaan, yang sudah lebaran menghargai yang masih berpuasa, begitu pula sebaliknya. Kami berharap suasana tetap damai demi kebersamaan,” pungkasnya.












