Tradisi Balap Lari Tanpa Alas Kaki di Kota Palu
Di Jl dr Wahidin, Kota Palu, masyarakat kembali menyaksikan tradisi unik dalam bentuk balap lari tanpa alas kaki. Acara ini digelar sebagai bagian dari perayaan bulan suci Ramadan 1447 Hijriah dan menjadi salah satu kegiatan yang dinantikan oleh warga setempat.
Balap lari ini diikuti oleh 64 peserta yang berasal dari berbagai daerah di Sulawesi Tengah. Mereka datang dari Kota Palu, Kabupaten Sigi, Donggala, Parigi Moutong, hingga Kabupaten Poso. Kegiatan yang diberi nama Wahidin Ramadan Pangova 4 ini telah memasuki tahun keempat pelaksanaannya dan menjadi ajang hiburan sekaligus penjaringan bibit atlet lari.
Keunikan dan Peserta yang Terlibat
Balap lari yang digelar di lintasan sepanjang 75 meter ini memiliki ciri khas yaitu peserta harus berlari tanpa menggunakan alas kaki. Hal ini membuat perlombaan lebih menantang dan menguji ketahanan fisik serta kepercayaan diri para peserta.
Ketua Panitia, M Opank, menjelaskan bahwa acara ini tidak hanya sekadar hiburan semata. Ia menilai kegiatan ini juga berperan penting dalam mencari bakat-bakat baru di bidang olahraga lari. Dengan adanya kompetisi seperti ini, diharapkan bisa muncul atlet-atlet unggulan yang nantinya mampu mewakili Kota Palu maupun Provinsi Sulawesi Tengah dalam berbagai ajang olahraga tingkat nasional maupun internasional.
“Balapan ini berbeda dengan lomba lari biasanya karena peserta berlari tanpa alas kaki di lintasan sepanjang 75 meter,” ujar Opank.
Persaingan dalam Tiga Kategori
Perlombaan kali ini mempertandingkan tiga kategori, yakni kategori utama, bebas, dan perempuan. Kompetisi dilakukan dengan sistem gugur dan digelar selama tiga hari, mulai dari tanggal 12 hingga 14 Maret 2026. Setiap peserta harus menunjukkan kemampuan terbaiknya agar bisa melaju ke babak berikutnya.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Palu, Bachtiar, memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan acara ini. Ia berharap kegiatan ini dapat membawa dampak positif bagi pengembangan olahraga di wilayah tersebut.
“Para peserta diharapkan selalu melakukan pemanasan atau peregangan otot sebelum bertanding, apalagi olahraga ini tanpa menggunakan alas kaki, jadi akan sedikit lebih berbahaya,” imbau Bachtiar.
Ia juga menekankan pentingnya menjunjung sportivitas selama perlombaan berlangsung. Menurutnya, menang dan kalah adalah hal yang biasa dalam setiap kompetisi, sehingga peserta harus siap menerima hasilnya dengan baik.
Harapan untuk Masa Depan Olahraga
Dengan adanya kegiatan seperti ini, diharapkan masyarakat dapat lebih memahami arti penting olahraga dan semangat persaingan yang sehat. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengekspresikan bakat mereka dalam bidang lari.
Masyarakat setempat tampak antusias mengikuti acara ini. Mereka tidak hanya menyaksikan pertandingan, tetapi juga turut merayakan momen Ramadan dengan cara yang unik dan penuh makna.
Melalui balap lari tanpa alas kaki ini, diharapkan bisa tercipta iklim olahraga yang sehat dan berkelanjutan di Kota Palu. Dengan dukungan penuh dari berbagai pihak, acara ini diharapkan bisa terus berlanjut dan berkembang di masa mendatang.













