Fenomena Pengunduran Diri Pejabat di Pemkab Deli Serdang
Beberapa pejabat eselon II dan III di lingkungan Pemerintah Kabupaten Deli Serdang mengundurkan diri, termasuk Rahman Saleh Dongoran dan Jumakir. Peristiwa ini menarik perhatian publik dan menjadi topik utama dalam berita viral terpopuler.
Penyebab Pengunduran Diri
Fenomena pengunduran diri ini dipicu oleh dugaan penyalahgunaan kewenangan yang dilaporkan oleh pimpinan. Para pejabat tersebut dihadapkan pada pilihan sulit: mengundurkan diri secara sukarela atau menghadapi sanksi disiplin yang lebih berat. Meski ada dugaan tekanan dari atas, pihak dinas membantah adanya unsur paksaan dalam proses ini.
Salah satu pejabat yang menjadi sorotan adalah Jumakir, Kepala Bidang Pembinaan SMP di Dinas Pendidikan Kabupaten Deli Serdang. Ia dikenal sebagai pejabat senior dengan rekam jejak panjang. Meski baru beberapa bulan menjabat sebagai Kabid Pembinaan SMP, ia memutuskan untuk melepaskan jabatannya dan kini dipindahkan ke Dinas Perpustakaan dan Arsip.
Keputusan atas Dasar Kesehatan
Kadis Pendidikan Deli Serdang, Suparno, menyatakan bahwa keputusan Jumakir untuk mundur murni atas keinginan pribadi karena alasan kesehatan. Hal serupa juga dialami oleh Rahman Saleh Dongoran, Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Ketapang) Kabupaten Deli Serdang. Ia resmi mengundurkan diri dari jabatannya pada Senin (9/3/2026), yang menambah panjang daftar pejabat eselon II di lingkungan Pemkab Deli Serdang yang memilih menanggalkan jabatan.
BKPSDM Deli Serdang belum memberikan data pasti mengenai jumlah pejabat yang mundur. Sistem rekrutmen dan kontrak yang selama ini dikelola secara mandiri oleh masing-masing OPD menyebabkan kondisi ini. Pihak Badan Kepegawaian tetap berpegang pada dokumen administratif yang menyatakan bahwa pengunduran diri tersebut dilakukan atas dasar alasan medis.
Klarifikasi dari Rahman Saleh Dongoran
Rahman Saleh Dongoran menegaskan bahwa keputusan untuk berhenti adalah murni atas keinginan dirinya sendiri tanpa ada paksaan dari pihak mana pun. Ia menekankan bahwa faktor kesehatan yang kian menurun menjadi pertimbangan utama baginya untuk segera mengakhiri masa jabatan sebelum waktunya. Rahman meminta agar keputusannya tidak dipandang secara berlebihan atau dikaitkan dengan isu-isu birokrasi yang berkembang di luar.
Latar Belakang Karier Rahman Saleh Dongoran
Rahman Saleh Dongoran bukanlah orang baru di dunia birokrasi Deli Serdang, dengan total pengabdian mencapai 37 tahun. Perjalanannya dimulai dengan sangat rendah hati sebagai tenaga honorer di Balai Benih Tanjung Selamat selama hampir dua tahun sebelum akhirnya diangkat menjadi CPNS pada tahun 1991. Dalam karir eselon II, ia telah menduduki dua posisi strategis, yakni sebagai Kepala Dinas Pertanian dan terakhir sebagai Kepala Dinas Ketahanan Pangan.
Mobil Daihatsu Zebra Terbakar di Magetan
Masyarakat Desa Giripurno, Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, dihebohkan dengan insiden mobil terbakar, Sabtu pagi (14/3/2026). Diketahui pemilik mobil yang terbakar jenis penumpang Daihatsu Zebra adalah Misiran, warga setempat. Warga sekitar langsung berupaya memadamkan api menggunakan peralatan seadanya.
Misiran mengatakan, saat kejadian mobil berada di teras rumah. Api muncul tiba-tiba ketika mobil hendak dihidupkan. “Sempat mendengar suara tidak normal dari kendaraan, sebelum akhirnya terjadi ledakan kecil yang memicu api,” ujar Misiran. Api menjalar hingga bagian teras rumah. Meski demikian tidak sampai membakar bangunan utama. Beruntung api dapat dikendalikan sehingga tidak merembet lebih luas.
Petugas Damkar Magetan, Dovi Saputra, menjelaskan, kejadian dilaporkan warga sekitar pukul 08.11 WIB. Dua unit mobil pemadam, satu unit rescue, serta satu unit tangki suplai air, diterjunkan ke lokasi. Petugas tiba di lokasi pada pukul 08.26 WIB dan langsung melakukan penanganan. Pihaknya menduga, penyebab kebakaran adalah kebocoran pada sistem bahan bakar kendaraan, yang memicu api saat mesin dinyalakan.
Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Namun kerugian materi diperkirakan mencapai sekitar Rp33 juta akibat kerusakan pada kendaraan dan sebagian area teras rumah.
Dua Pelaku Penyiraman Air Keras Masih Buron
Dua orang pelaku penyiraman air keras kepada aktivis Andrie Yunus masih buron hingga saat ini. Pelaku tersebut terdiri dari dua orang dimana satu orang bertugas mengendarai motor dan satu lagi yang menyiramkan air keras kepada Andrie Yunus. Warga sempat mengejar dua penyiram air keras Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus dengan sepeda motor. Namun, kedua pelaku yang menggunakan sepeda motor melarikan diri dan tak terkejar.
Peristiwa itu terjadi di Jalan Salemba I, Kelurahan Senen, Jakarta Pusat, pada Kamis (12/3/2026) malam. Buyung (32), salah satu saksi mata, menceritakan, penyiraman terhadap Andrie terjadi menjelang tengah malam. Saat itu, Buyung sedang bermain gitar bersama rekannya di ujung Jembatan Talang.
Saat itu, Buyung melihat belasan warga telah mengerumuni korban. Warga kemudian menanyakan apa yang terjadi kepada Andrie yang saat itu meringis kesakitan. “Ditanya ‘Kenapa nih, kenapa?’, ‘Saya disiram air keras’, ‘Kenapa, gimana?’. Dijawab, enggak tahu tuh sama orang enggak dikenal,” tutur Buyung. Saat itu, warga juga sempat menanyakan identitas Andrie Yunus. Andrie pun menyebut dirinya merupakan aktivis KontraS.
Buyung melihat bagian kulit dada, tangan, dan mata Andrie melepuh kemerahan setelah terkena siraman air keras. Warga sempat memberikan air minum kepada Andrie. Setelah itu, Andrie menghampiri sepeda motornya yang tergeletak dan langsung memacu kendaraan menuju mess KontraS yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian. Warga sempat menawarkan untuk mengantar Andrie ke mess tersebut, tetapi yang bersangkutan menolak.
Sementara itu, beberapa warga lain langsung menaiki sepeda motor untuk mengejar terduga pelaku. Dua sepeda motor warga melaju mengejar pelaku, tetapi kemudian kehilangan jejak. “Iya sempat mau ngejar si pelaku ke arah situ, tapi pelakunya enggak terkejar, akhirnya balik lagi ke sini,” tambah Buyung.
Respons Internasional terhadap Penyiraman Air Keras
Kabar penyiraman air keras yang dilakukan oknum tak dikenal kepada aktivis KontraS langsung menjadi perhatian banyak pihak. Termasuk Dewan HAM PBB. Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merespons insiden penyiraman air keras yang menimpa aktivis HAM Andrie Yunus. Melalui unggahan di media sosial X, akun resmi @UNHumanRights menyampaikan keprihatinan mendalam atas serangan tersebut.
“Sangat prihatin atas serangan asam mengerikan terhadap Andrie Yunus, Wakil Koordinator Urusan Eksternal Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (@KontraS),” tulisnya, Sabtu (14/3/2026), dikutip via Kompas.com. “Mereka yang bertanggung jawab atas tindakan kekerasan pengecut ini harus dimintai pertanggungjawaban. Pembela hak asasi manusia harus dilindungi dalam pekerjaan vital mereka dan dapat mengangkat isu-isu kepentingan publik tanpa rasa takut,” tambahnya.
Kecaman serupa juga disampaikan Pelapor Khusus PBB untuk Pembela Hak Asasi Manusia, Mary Lawlor. Ia meminta aparat berwenang di Indonesia mengusut tuntas kasus penyerangan tersebut. Dalam unggahannya di X pada Jumat (13/3/2026), Mary menyebut impunitas atau kebebasan dari hukuman atas kekerasan terhadap pembela HAM sebagai hal yang tidak dapat diterima.
“Saya mendengar kabar yang sangat mengkhawatirkan bahwa Andrie Yunus, Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (@KontraS) mengalami serangan air keras yang dilakukan oleh individu tak dikenal, menyebabkan luka serius di seluruh tubuhnya,” tulis Mary Lawlor. “Saya menyerukan kepada pihak berwenang Indonesia untuk melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap serangan mengerikan ini. Impunitas (kebebasan dari hukuman) atas kekerasan terhadap pembela HAM tidak dapat diterima,” ujarnya.













