Kesiapan Transportasi di Kalimantan Timur Menghadapi Lonjakan Penumpang Libur Lebaran
Kesiapan sektor transportasi di Kalimantan Timur dalam menghadapi lonjakan arus penumpang saat libur Lebaran kembali menjadi perhatian utama. Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah Kalimantan Timur, Tiopan Henry Manto Gultom, menyampaikan bahwa perencanaan transportasi di daerah masih belum sepenuhnya berbasis data, sehingga berpotensi tidak tepat sasaran dalam mengantisipasi mobilitas masyarakat.
Menurut Tiopan, ketiadaan data menjadi persoalan utama dalam memprediksi lonjakan penumpang. Ia menilai pemerintah Provinsi Kaltim seharusnya melakukan survei permintaan perjalanan atau perilaku perjalanan masyarakat Kalimantan Timur di saat hari raya. Namun, hingga saat ini, survei semacam itu belum pernah dilakukan.
“Karena tidak ada data sama sekali. Pemerintah Provinsi Kaltim itu harusnya melakukan survei permintaan perjalanan atau perilaku perjalanan masyarakat Kalimantan Timur di saat hari raya. Tapi tidak pernah ada surveinya,” ujarnya.
Tanpa data pembanding, pemerintah hanya bisa berspekulasi. Menurut Tiopan, peningkatan dibanding hari normal mungkin saja terjadi, namun untuk membandingkan dengan tahun sebelumnya menjadi sulit karena tidak pernah ada basis data yang dikumpulkan secara sistematis.
“Harusnya kita memang semua berbasis data,” tegasnya.
Pentingnya Pengumpulan Data dalam Perencanaan Transportasi
Tiopan menjelaskan bahwa pengumpulan data sebenarnya bukan hal yang sulit maupun mahal. Ia memperkirakan, dengan anggaran yang relatif kecil, survei perilaku perjalanan masyarakat sudah dapat dilakukan jauh hari sebelum Lebaran.
“Tiga bulan sebelum hari raya bisa kita survei. Apakah mereka akan mudik, ke mana mereka akan mudiknya, menggunakan angkutan apa, pada tanggal berapa akan rencana pulang, berapa orang yang akan mudik, bisa ketahuan kok,” paparnya.
Dengan data tersebut, lanjutnya, pemerintah dapat memprediksi kebutuhan moda transportasi secara lebih akurat dan menyiapkan layanan berdasarkan kebutuhan riil masyarakat, bukan sekadar asumsi.
“Sehingga kita bisa mempersiapkan moda-moda itu sesuai dengan prediksi itu dan berdasarkan data-data itu,” imbuhnya.
Namun, ia menyayangkan hingga saat ini belum ada inisiatif serius dari pemerintah daerah untuk melakukan survei serupa. Padahal, metode pengumpulan data bisa dilakukan secara sederhana melalui penyebaran kuesioner secara acak di berbagai kabupaten/kota di Kalimantan Timur.
“Selama ini pemerintah daerah tidak ada yang mau ngumpulkan data, harusnya ada. Dilakukan survei dong. Kuisionernya gampang kok, buatkan survei kuisionernya untuk ditanyakan ke setiap masyarakat yang diambil secara random, misalnya di Samarinda, di Balikpapan, di Kubar, dan secara random di Bontang. Semua kabupaten kota yang ada di Kalimantan Timur ditanya. Sehingga kita bisa tahu bagaimana pola perjalanannya, pada tanggal berapa dia akan terjadi, hari apa perjalanan puncaknya, dan itu bisa ketahuan,” jelasnya.
Keterbatasan Data yang Ada
Tiopan juga menyinggung bahwa data yang dimiliki pemerintah pusat belum tentu merepresentasikan kondisi riil di daerah, lantaran umumnya hanya bersumber dari titik-titik transportasi tertentu seperti pelabuhan dan bandara besar.
“Saya tidak tahu pemerintah pusat datanya itu relate dengan provinsi atau tidak, tapi saya sih tidak yakin. Karena pemerintah pusat itu hanya mengambil data dari pelabuhan-pelabuhan Palaran, misalnya, atau APT Pranoto, atau Sepinggan. Tapi kan bandara kita bukan cuma itu. Ada bandara-bandara lain, termasuk bandara kecil yang perjalanannya dominan di dalam provinsi. Kemudian ada juga terminal-terminal untuk perjalanan dalam provinsi seperti di Lempake. Kalau pemerintah pusat kan tidak mungkin mendatanya di Lempake,” ungkapnya.
Menurutnya, perubahan kondisi ekonomi, hadirnya moda transportasi baru, hingga pembangunan infrastruktur jalan dapat memengaruhi pola perjalanan masyarakat setiap tahunnya. Oleh karena itu, mengandalkan data historis semata dinilai tidak cukup.
“Walaupun data historis itu penting, tapi belum tentu sama. Itu akan memengaruhi pola perjalanan orang, baik dalam memilih moda maupun rute,” katanya.
Persiapan Transportasi Sungai Selama Mudik
Terkait pengelolaan transportasi sungai selama periode mudik, Tiopan mengaku belum melihat adanya perhatian khusus dari pemerintah. Ia kembali menegaskan pentingnya perencanaan berbasis data, termasuk dalam menentukan jumlah armada hingga kebijakan tarif.
“Saya belum melihat itu, karena tidak ada laporan sama sekali ke MTI. Tapi seharusnya kembali lagi, apapun itu pemerintah provinsi harus berdasarkan data. Dari rencana perjalanan masyarakat Kalimantan Timur di saat mudik, maka bisa kita lakukan persiapan dari sisi angkutan sungainya, berapa kapal yang harus disiapkan benar-benar ready. Bahkan tarifnya pun bisa kita atur, karena dari kuisioner itu kita bisa tanya berapa permintaan tarifnya masyarakat. Apa perlu subsidi dari pemerintah dari situ,” terangnya.
Ia mengingatkan agar kebijakan tidak diambil secara spekulatif tanpa mempertimbangkan kesiapan armada maupun kebutuhan riil di lapangan.
Lebih jauh, ia menilai bahwa informasi mengenai potensi lonjakan penumpang seharusnya sudah dapat dipublikasikan jauh sebelum hari H, sehingga seluruh pemangku kepentingan memiliki waktu cukup untuk melakukan persiapan.
Namun demikian, Tiopan mengaku pesimis survei semacam itu telah dilakukan. Ia bahkan menegaskan, selama puluhan tahun berkecimpung di Kalimantan Timur, belum pernah melihat adanya upaya sistematis pengumpulan data perjalanan masyarakat menjelang Lebaran.
“Saya sudah 25 tahun di sini, tidak pernah ada itu. Padahal data ini penting,” pungkasnya.
Solusi untuk Meningkatkan Kesiapan Transportasi
Sebagai solusi, Tiopan mendorong pemerintah daerah untuk melibatkan berbagai pihak, termasuk organisasi profesi seperti MTI maupun perguruan tinggi, dalam melakukan survei dan analisis pola pergerakan masyarakat.
“Atau untuk membantu menganalisa bagaimana pola pergerakannya ke depan. Jadi bukan berdasarkan historis data kemudian hanya lihat dan tiba-tiba keputusan diambil. Tapi kita sudah ada bayangan apa yang harus kita lakukan berdasarkan data ke depannya,” tutupnya.













