Kericuhan di Desa Purwasaba, Kabupaten Banjarnegara
Insiden kericuhan yang terjadi di Desa Purwasaba, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara, menimbulkan polemik panjang. Peristiwa ini bermula dari aksi demonstrasi warga yang memprotes proses penjaringan perangkat desa. Aksi tersebut berujung pada tudingan pengeroyokan terhadap Kepala Desa Purwasaba, Welas Yuni Nugroho atau dikenal sebagai Hoho Alkaf.
Hoho mengaku menjadi korban pengeroyokan saat suasana dalam aksi demonstrasi mulai memanas. Ia menyebutkan bahwa kacamata yang ia pakai pecah dan baju dinasnya robek akibat kejadian tersebut. Selain itu, atribut resmi yang menempel pada seragamnya juga rusak.
LSM Harimau Beri Penjelasan
Aksi demonstrasi tersebut turut melibatkan LSM Harimau yang disebut hadir dalam kegiatan tersebut. Namun, organisasi tersebut membantah tudingan bahwa mereka memicu keributan. Pihak LSM menyatakan bahwa kehadiran mereka hanya untuk melakukan pendampingan dan advokasi bagi masyarakat yang tidak puas dengan proses seleksi perangkat desa.
“Kami tidak pernah memulai tindakan provokasi ataupun kekerasan dalam kegiatan advokasi tersebut,” jelas keterangan tertulis LSM Harimau Ranting Purwasaba. Mereka menegaskan bahwa tujuan kehadiran mereka adalah untuk memastikan proses pemerintahan desa berjalan secara transparan dan sesuai hukum.
Namun, meski LSM Harimau membantah, keterkaitan mereka dengan kericuhan masih dalam tahap dugaan. Aparat penegak hukum kini sedang melakukan penelusuran lebih lanjut terkait insiden tersebut.
Dipicu Polemik Seleksi Perangkat Desa
Menurut Hoho, aksi demonstrasi yang berujung kericuhan dipicu oleh kekecewaan salah satu anggota LSM yang tidak lolos dalam proses penjaringan perangkat desa. Massa yang hadir kemudian menuntut agar tahapan seleksi yang telah sampai pada pengumuman hasil dibatalkan dan dilakukan ulang.
Namun, pemerintah desa menolak tuntutan tersebut karena proses seleksi dinilai sudah berjalan sesuai prosedur dan aturan yang berlaku. Hoho menegaskan bahwa hasil seleksi tidak akan dibatalkan hanya karena tekanan dari pihak tertentu.
Hoho Mengaku Jadi Korban Pengeroyokan
Melalui akun media sosial pribadinya @hoho_alkaff, Hoho menceritakan bahwa aksi pengeroyokan terjadi secara tiba-tiba ketika ia hendak keluar dari area balai desa. Ia mengungkapkan bahwa kacamata yang ia pakai pecah dan baju dinasnya robek akibat pukulan.
Ia menjelaskan bahwa serangan terjadi ketika dirinya baru saja keluar dari pintu aula balai desa dan belum sempat mendapatkan pengawalan aparat keamanan. “Waktu saya baru keluar dari pintu aula sebelum dikawal, langsung pukulan menghujani dari belakang, samping, belakang, dan depan,” ujarnya.
Atribut Kepala Desa Rusak
Akibat kejadian tersebut, Hoho mengaku sejumlah atribut yang dikenakannya sebagai kepala desa mengalami kerusakan. Kacamata yang dipakai pecah akibat pukulan, sementara pakaian dinas yang dikenakan robek karena tarik-menarik di tengah kericuhan. Bahkan atribut resmi yang menempel pada seragamnya juga terlepas.
Bantah Narasi dalam Video Viral
Hoho juga menanggapi video yang beredar luas di media sosial terkait insiden tersebut. Menurutnya, rekaman yang viral itu tidak memperlihatkan keseluruhan kejadian karena saat video tersebut direkam dirinya sudah berada dalam pengamanan aparat. “Di video itu memang suruh keluar semua, tapi kenyataannya tidak seperti itu,” ujarnya.
Hoho Mengaku Dilaporkan ke Polisi
Di tengah polemik yang masih bergulir, Hoho mengungkap bahwa dirinya kini telah dilaporkan ke pihak kepolisian oleh pihak yang menuntut agar ujian seleksi perangkat desa diulang. Hal itu disampaikannya saat berbincang dengan Dedi Mulyadi. Meski laporan telah masuk, ia menyebut hingga kini dirinya belum menjalani pemeriksaan.
Soroti Pengamanan Aparat
Dalam pernyataannya, Hoho juga menyoroti sikap aparat keamanan yang berada di lokasi saat kericuhan terjadi. Ia menilai aparat kepolisian yang berjaga tidak memberikan perlindungan maksimal ketika situasi mulai tidak terkendali. Karena itu, ia meminta agar insiden tersebut mendapat perhatian dan keadilan, termasuk dari Propam Mabes Polri.













