Kasus Pembunuhan Siswi SMP di Sikka: Keluarga Mengungkap Kekecewaan dan Tuntutan Keadilan
Febrinus Betho, perwakilan keluarga korban STN (14) yang merupakan siswi SMP di Sikka, menyampaikan sambutan emosional dalam Misa di Gereja Katolik Paroki Spiritu Santo Misir, Maumere, Rabu (18/3/2026) sore. Ia secara terbuka menyatakan kekecewaannya atas lambannya respons awal dari pihak berwenang.
“Kami harus meminta pertolongan kepada siapa? Kami harus mengadu kepada siapa? Ketika semua wakil dan pemegang otoritas seolah tidak melihat, kami bingung,” ujar Febrinus dengan suara bergetar.
Setelah tiga hari melakukan pencarian mandiri, keluarga akhirnya menemukan jasad korban pada Senin, 23 Februari 2026 pukul 15.00 WITA. “Kami berjuang sendiri menemukan anak kami hingga membawanya ke rumah sakit,” tegasnya.
Indikasi Pembunuhan Berencana yang “Rapi”
Keluarga meyakini bahwa kematian korban bukanlah kriminalitas biasa, melainkan pembunuhan berencana yang dilakukan dengan sangat rapi. Hal ini didasari pada hilangnya sejumlah barang bukti dan bagian tubuh korban yang hingga kini masih menjadi misteri.
“Sampai hari ini, ponsel korban, sebagian rambut, hingga jari korban belum ditemukan. Ini sangat menyakitkan bagi kami,” ungkap Febrinus. Ia bahkan menganalogikan penderitaan luar biasa yang dialami korban dengan kisah kemartiran Santo Stefanus. Menurutnya, kerapian tindakan pelaku menunjukkan adanya skenario yang sengaja disusun untuk menghilangkan jejak.
Tak Akan Menyerah Mengejar Keadilan
Meski menyerahkan keadilan tertinggi kepada Tuhan sebagai “Hakim yang Paling Adil”, Febrinus menegaskan bahwa keluarga tidak akan tinggal diam atau “berhenti di lantai”. Mereka berkomitmen akan terus mengawal proses hukum di negara ini.
“Kita hidup di negara hukum, maka kami tetap menggunakan hak-hak hukum itu. Kami tidak ingin ada korban lain di masa depan. Siapa pun pelakunya harus bertanggung jawab,” pungkasnya.
Perayaan Doa dan Harapan Keadilan
Dalam kesempatan tersebut, hadir umat serta organisasi Tunggal Hati dan Seminari-Tunggal Hati Kudus Maria (THS-THM) Keuskupan Maumere. Di tengah suasana yang penuh haru, banyak umat datang untuk memberikan dukungan kepada keluarga korban.
Ratapan Ibu Noni
Maria Yohana Nona, ibu dari STN, bersimpuh dengan tubuh yang bergetar hebat di pelataran Taman Doa Kristus Raja Maumere, Rabu petang (18/3/2026) sore. Di hadapan foto putrinya, STN (14) alias Noni, yang tersandar di kaki arca Kristus Raja, ia tak lagi sekadar mendaraskan doa, melainkan melontarkan gugatan kepada Tuhan.
“Mama panggil sayang, Mama panggil. Ini mama panggil nak,” rintih Maria. Suaranya pecah, menyusup di antara keheningan ratusan umat yang ikut dalam aksi menyalakan lilin untuk Noni yang digagas organisasi Tunggal Hati Seminari -Tunggal Hati Maria (THS-THM) Keuskupan Maumere.
Tuntutan Keadilan
Di hadapan ratusan lilin yang menyala, tangis Maria pecah meratapi kematian tragis putri tunggalnya, korban pembunuhan dan pemerkosaan kakak kelasnya. Bagi Maria, kepergian Noni adalah anomali dari doa-doa perlindungan yang ia daraskan setiap hari.
“Tuhan Yesus ampuni doa saya saya. Ampuni dosa saya Tuhan. tapi kenapa harus anak saya ya Tuhan, kenapa tidak saya tuhan,” serunya di tengah isak yang kian menderu.
Perayaan Doa dan Harapan Keadilan
Di depan arca itu, Maria menuntut keadilan bagi anak yang ia besarkan dengan cinta dan ketaatan. “Di depanmu Tuhan aku mohon engkau adalah pengadilan yang sesungguhnya. Namun selama ini anak saya baik, dia baik Tuhan, dia tidak pernah melawan dan selama baik. Aku selalu berdoa kepadamu untuk melindungi anak-anak yang kau titipkan tapi kenapa kau mengambil salah satunya,” gugatnya pedih.
Suasana di taman doa yang dikenal sebagai tempat hening dan refleksi itu berubah menjadi ruang duka kolektif. Umat anak-anak, hingga orang dewasa berkumpul. Ada yang berlutut, menundukkan kepala, hingga menyalakan lilin, memeluk keluarga korban dan berdoa.
Tiga Tersangka
Sebelumnya, Polres Sikka telah menetapkan tiga orang tersangka dalam kasus dugaan pembunuhan terhadap STN. Mereka di antaranya FRG (16), SG (47), dan VS (58). VS merupakan ayah kandung dari FRG, dan SG merupakan kakek kandung FRG. Kini mereka sudah mendekam di sel tahanan Mapolres Sikka untuk proses hukum selanjutnya.
Dilaporkan Hilang
Sebelumnya, STN dilaporkan hilang sejak Jumat (20/2/2026) sore dan ditemukan sudah tak bernyawa pada Senin (23/2/2026) sore di sebuah kali di Desa Rubit, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka, NTT. Kuat dugaan, ia dibunuh secara tragis.













