Peran Pendidikan dalam Mencegah Kekerasan di Sekolah
Di tengah kisruh yang terjadi akibat aksi pengeroyokan pelajar SMAN 5 Bandung yang viral di media sosial, seorang praktisi pendidikan, Itje Chodidjah, memberikan pernyataan penting mengenai peran pendidikan dalam mencegah kejadian serupa. Dalam kejadian tersebut, satu pelajar dinyatakan meninggal dunia, yang menunjukkan betapa seriusnya masalah ini.
Itje menekankan bahwa pendidikan sejatinya adalah proses pencegahan, bukan hanya tindakan setelah sesuatu terjadi. Ia menjelaskan bahwa anak-anak yang sudah SMA tidak tiba-tiba menjadi seperti itu. Mereka tumbuh dari PAUD hingga SMP, dan apa yang telah ditanamkan kepada mereka selama masa tersebut sangat berpengaruh pada perkembangan karakter mereka.
“Anak SMA enggak mendadak besar, enggak mendadak tiba-tiba berkarakter seperti mereka yang sampai mereka melakukan pengeroyokan, tawuran. Tetapi kan itu tumbuh dari sejak SD,” ujar Itje.
Paradigma Pendidikan yang Harus Diubah
Menurut Itje, paradigma masyarakat sering kali menganggap penguasaan akademik sebagai tolak ukur keberhasilan siswa. Padahal, perkembangan karakter sama pentingnya dengan aspek akademik. Ia menyebut bahwa anak-anak datang ke sekolah seolah-olah hanya menerima tuntutan untuk kemudian diuji, tanpa adanya pembentukan karakter yang benar.
“Itu yang dirawat secara benar sehingga anak-anak ketika tumbuh remaja sudah berani mengambil keputusan, dia mengambil keputusan yang masih dalam koridor norma,” jelasnya.
Masalah Karakter Anak Saat Ini
Itje juga menyoroti bahwa ada yang keliru dalam karakteristik anak saat ini. Ketika mereka mencapai SMA, anak-anak mulai merasa ingin mandiri dan kuat. Namun, hal-hal yang tidak tertumbuhkan yaitu moral dan norma, sehingga membuat mereka menjadi liar.
Ia menilai bahwa pendidikan harus dimulai dari awal, yaitu dari PAUD, SD, dan SMP. Jika proses ini dilakukan dengan benar, maka anak-anak akan tumbuh menjadi individu yang memiliki nilai moral dan sosial yang baik.
Tantangan Penerapan Jam Malam
Terkait pemberlakuan jam malam oleh Pemprov Jabar, Itje menganggap bahwa hal tersebut sangat sulit dilakukan. Menurutnya, jam malam akan diawasi oleh Satpol PP, tetapi jumlah personel tersebut tidak cukup untuk mengawasi semua anak remaja yang berkeliaran.
“Anak remaja lebih tahu tempat di mana dia harus ngumpet dari kejaran atau dari penglihatan Satpol PP,” ujarnya.
Kesimpulan
Dari semua pernyataan Itje, dapat disimpulkan bahwa pendidikan tidak hanya tentang akademik, tetapi juga tentang pembentukan karakter. Jika proses ini dilakukan dengan benar sejak dini, maka anak-anak akan tumbuh menjadi individu yang bertanggung jawab dan memahami norma serta nilai-nilai moral.













