Gempa di Gegerbitung Sukabumi Mengagetkan Warga
Dua kali gempa yang terjadi di Kecamatan Gegerbitung, Kabupaten Sukabumi, mengagetkan warga setempat. Peristiwa tersebut terjadi pada tengah malam dan menjelang sahur. Pusat gempa berada tidak jauh dari lokasi Situs Megalitikum Gunung Padang, yang berjarak sekitar 10 kilometer dari titik gempa. Situs ini terletak di Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, dan menjadi perhatian para ahli karena struktur bangunannya yang unik.
Keunikan Struktur Situs Megalitikum Gunung Padang
Para ahli meyakini bahwa Situs Megalitikum Gunung Padang memiliki struktur tahan gempa. Hal ini disebabkan oleh penggunaan batu andesit berkolom yang disusun secara teknis oleh manusia, bukan sekadar hasil alam. Struktur punden berundak ini dirancang untuk tetap stabil dan mampu menahan guncangan selama ribuan tahun.
Beberapa poin penting tentang Situs Gunung Padang sebagai peredam energi gempa adalah:
- Teknik Konstruksi: Batu andesit yang berbentuk balok disusun dengan rapi (struktur buatan manusia) sehingga situs ini fleksibel saat terjadi gempa.
- Ketahanan Struktur: Meskipun berada di daerah yang sering mengalami gempa (Cianjur), struktur punden berundak Gunung Padang terbukti mampu meredam energi gempa.
- Struktur Berlapis: Penelitian menunjukkan adanya beberapa lapisan bangunan, di mana struktur tertua di bagian bawah diyakini memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap guncangan.
- Posisi Stabil: Beberapa pendapat menyebutkan situs ini berada di area yang secara geologis relatif stabil dibanding area sekitarnya.
- Kearifan Lokal: Struktur ini mencerminkan kearifan lokal masa lalu dalam beradaptasi dengan lingkungan yang rentan terhadap bencana gempa bumi.
Gempa Susulan di Wilayah Sukabumi
Gempa bumi susulan kembali terjadi di wilayah tenggara Kota Sukabumi, Jawa Barat, pada Minggu (15/3/2026) dini hari. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa susulan tersebut memiliki magnitudo 2,1 dan terjadi pada pukul 03.42.05 WIB.
BMKG mencatat titik koordinat gempa berada di 6,97 Lintang Selatan dan 107,02 Bujur Timur, atau sekitar 11 kilometer tenggara Kota Sukabumi, dengan kedalaman 10 kilometer. Gempa ini merupakan gempa susulan setelah sebelumnya wilayah tenggara Kota Sukabumi diguncang gempa berkekuatan magnitudo 4,2 pada pukul 00.36.13 WIB.
Berdasarkan pemetaan titik episentrum, gempa utama diduga terjadi di wilayah sekitar antara Desa Karangjaya dan Desa Buniwangi, Kecamatan Gegerbitung, Kabupaten Sukabumi. Sementara itu, gempa susulan dengan magnitudo 2,1 memiliki episentrum di sekitar Desa Caringin, yang juga berada di Kecamatan Gegerbitung.
Dari dua titik episentrum tersebut, rangkaian gempa terpantau mengarah ke wilayah timur Kecamatan Gegerbitung, Kabupaten Sukabumi, menuju perbatasan wilayah Kabupaten Cianjur.
Tidak Ada Kerusakan Akibat Gempa
Petugas Penanggulangan Kecamatan Gegerbitung, Ofieq, mengatakan hingga saat ini pihaknya belum menerima laporan kerusakan akibat gempa tersebut. “Pasca kejadian gempa pertama magnitudo 4,2 dan gempa susulan, kami belum mendapatkan informasi adanya kerusakan,” ujarnya.
Ia menambahkan, hingga pukul 04.30 WIB, hasil inventarisasi sementara yang dilakukan di wilayah Kecamatan Gegerbitung belum menemukan adanya laporan kerusakan dari masyarakat. “Kami masih terus melakukan pemantauan dan pendataan di sejumlah wilayah untuk memastikan kondisi pascagempa,” tutup Ofeq.
Penjelasan BMKG Mengenai Gempa
Kepala BBMKG Wilayah II Tangerang, Hartanto, menjelaskan gempa tersebut merupakan gempa dangkal yang dipicu aktivitas sesar aktif. “Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa yang terjadi merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas sesar aktif,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Wilayah Sukabumi diketahui berada di jalur Sesar Cimandiri, salah satu sesar aktif di Jawa Barat yang membentang dari kawasan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat hingga Pelabuhanratu, Kabupaten Sukabumi. Aktivitas sesar tersebut kerap memicu gempa bumi dangkal yang dapat dirasakan masyarakat di wilayah Sukabumi dan sekitarnya.












