Santo Yusuf, Suami Maria
Santo Yusuf, suami Santa Perawan Maria dan ayah angkat Yesus, Putra Allah, adalah tokoh penting dalam sejarah agama Kristen. Semua pengetahuan kita tentang Santo Yusuf berasal dari dua bab awal Injil Matius dan Lukas. Secara umum, ia dianggap sebagai ayah Yesus karena ia adalah keturunan Raja Daud. Oleh karena itu, Yesus juga disebut Putra Daud.
Pada hari ini, Kamis 19 Maret 2026, kita merayakan peringatan Santo Yusuf. Ia adalah figur yang penuh kebajikan dan kesetiaan. Hubungan antara Yusuf dan Maria lebih dari sekadar hubungan pertunangan. Mereka menjalani sebuah perkawinan yang sah, meskipun pada awalnya mereka tidak tinggal bersama. Selama sekitar satu tahun, mereka hidup terpisah. Ketika Maria mengandung secara ajaib oleh Roh Kudus, Yusuf bingung dan ingin meninggalkan Maria secara diam-diam. Namun, ia memilih untuk percaya dan mengikuti petunjuk malaikat yang menyampaikan pesan bahwa anak Maria berasal dari Roh Kudus. Setelah itu, Yusuf mengambil Maria sebagai istrinya dan mulai tinggal serumah.
Menurut Injil Matius, Yusuf tidak bersetubuh dengan Maria sampai ia melahirkan anak laki-laki (Mat 1:25). Kata “sampai” menunjukkan bahwa Yusuf tidak melakukan hubungan intim dengan Maria sebelum kelahiran Yesus. Namun, hal ini tidak berarti bahwa setelah kelahiran Yesus, mereka kembali menjalani hubungan seperti biasanya. Istilah “anak sulung” dalam Injil Lukas tidak berarti bahwa Maria memiliki anak lain. Kata tersebut hanya digunakan untuk menyebut anak laki-laki pertama dalam sebuah keluarga, bahkan jika tidak ada saudara kandung lain.
Menurut Injil Matius, Yusuf adalah seorang tukang kayu. Riwayat hidupnya tidak banyak dikisahkan, tetapi diperkirakan ia meninggal sebelum Yesus mulai berkarya. Hal ini dapat dilihat dari fakta bahwa ia tidak pernah disebut lagi selama masa pelayanan Yesus. Salah satu bukti adalah dalam Injil Yohanes, di mana Yesus memberikan ibunya kepada Yohanes, murid-Nya yang dicintai. Teks ini menunjukkan bahwa Maria sudah menjadi janda.
Cerita-cerita apokrif purba menggambarkan Yusuf sebagai lelaki tua yang sudah memiliki enam anak dari perkawinan sebelumnya. Cerita ini dimaksudkan untuk menjelaskan adanya saudara-saudara Yesus dalam Injil. Namun, dalam bahasa Aram yang digunakan oleh Yesus dan murid-murid-Nya, kata yang digunakan untuk menyebut saudara dan sepupu adalah sama. Oleh karena itu, para pengarang Injil menggunakan istilah ini agar dibaca dengan benar oleh para pembaca.
Yusuf dan Maria benar-benar menikah dan memiliki hak-hak perkawinan penuh. Meskipun mereka tidak menggunakan hak tersebut, mereka tetap dianggap sebagai pasangan suami-istri. Alasan teologis mengapa Yesus dilahirkan dari seorang Perawan adalah karena Pribadi kedua dalam Tritunggal Allah telah ada sejak kekal. Kelahiran-Nya melalui rahim Maria menunjukkan kehendak Allah untuk menjadi manusia dalam sebuah keluarga.
Meski bukan ayah fisik Yesus, Yusuf dianggap sebagai ayah rohani dan pelayan. Hubungan antara Yusuf dan Yesus diwujudkan dengan menggambarkan Yusuf sebagai ayah piara dan ayah sah Yesus.
Devosi kepada Santo Yusuf tidak dikenal dalam gereja selama berabad-abad. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran bahwa penekanan berlebihan pada posisi Yusuf dapat menimbulkan kesalahpahaman bahwa ia adalah ayah kandung Yesus. Saat ini, Gereja menghormati Yusuf karena kekudusan dan martabat Maria sebagai Bunda Yesus. Paus Pius IX menetapkan Yusuf sebagai pelindung gereja universal pada 8 Desember 1870. Dalam litani Santo Yusuf, ia digambarkan sebagai pelindung bagi buruh, keluarga, perawan, orang sakit, dan orang yang telah meninggal. Ia juga dihormati sebagai tokoh doa dan kehidupan rohani, pelindung fakir miskin, penguasa, bapa keluarga, imam, dan kaum religius.
Pada tahun 1937, Paus Pius XI mengangkat Santo Yusuf sebagai pelindung Gereja melawan komunisme ateistik. Pada tahun 1961, Paus Yohanes XXIII memilih Yusuf sebagai pelindung surgawi Konsili Vatikan II. Nama Yusuf mulai dimasukkan dalam kanon misa pada tahun 1962.
Pada abad ke delapan dan kesembilan, 19 Maret ditetapkan sebagai hari raya utama Santo Yusuf. Pada tahun 1955, Paus Pius XII memaklumkan pesta Santo Yusuf pekerja yang dirayakan pada 1 Mei. Pesta ini menekankan martabat pekerjaan dan keteladanan Santo Yusuf sebagai pekerja serta keikutsertaan Gereja dalam karya penyelamatan Allah.













