Pengertian dan Makna Takbir dalam Idul Fitri
Takbir merupakan salah satu tradisi yang sangat penting dalam perayaan Idul Fitri. Umat Muslim dianjurkan untuk menggemakan takbir pada malam Idul Fitri sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT. Bacaan takbir memiliki dua versi, yaitu pendek dan panjang, yang bisa dilafalkan sesuai dengan sunnah.
Takbir dibaca setelah sholat fardhu hingga menjelang sholat Ied. Lafadz ini menjadi simbol rasa syukur atas nikmat Ramadhan yang telah dijalani. Malam takbiran Idul Fitri 2026 menjadi momen penuh syukur bagi umat Muslim setelah sebulan berpuasa. Lafadz takbir dikumandangkan sejak matahari terbenam hingga pelaksanaan sholat Ied.
Bacaan takbir tersedia dalam versi pendek maupun panjang dengan tulisan Arab dan latin. Tradisi ini menjadi syiar Islam sekaligus penanda datangnya 1 Syawal. Umat muslim disunnahkan bertakbir sejak Matahari terbenam di akhir bulan Ramadhan hingga dimulainya sholat Idul Fitri.
Adapun waktu-waktu utama untuk membacanya adalah seusai sholat-sholat fardhu, baik di rumah maupun di masjid. Takbiran Idul Fitri juga dibaca ketika menunggu saat dimulainya sholat ‘Ied.
Apa Itu Takbir?
Takbiran adalah melantunkan kalimat “Allahu Akbar” (Allah Maha Besar) sebagai ungkapan rasa syukur dan pengagungan kepada Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya. Adapun, hukum membaca lafadz takbir Idul Fitri adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan dan tidak boleh ditinggalkan tanpa alasan yang syar’i.
Takbir Versi Pendek
Berikut adalah lafadz takbir versi pendek:
Arab:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Arab Latin:
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. La ilaha illallahu wallahu akbar. Allahu akbar wa lillahil hamdu.
Artinya:
“Allah maha besar, Allah maha besar, Allah maha besar. Tiada tuhan selain Allah. Allah maha besar. Segala puji bagi-Nya.”
Takbir Versi Panjang
Untuk lafadz takbir Idul Fitri versi panjang, umat muslim dapat melanjutkannya dengan dzikir. Caranya yakni membaca takbir Idul Fitri sebanyak 3 kali kemudian dilanjutkan dengan bacaan dzikirnya.
Adapun lafadz dzikir yang dibaca adalah:
Arab:
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الِلّٰهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الاَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ
Arab Latin:
Allahu akbar kabira, walhamdu lillahi katsira, wa subhanallahi bukratan wa ashila, la ilaha illallahu wa la na’budu illa iyyahu mukhlishina lahud dana wa law karihal kafirun, la ilaha illallahu wahdah, shadaqa wa’dah, wa nashara ‘abdah, wa hazamal ahzaba wahdah, la ilaha illallahu wallahu akbar.
Artinya:
“Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan sebanyak-sebanyak puji, dan Maha suci Allah sepanjang pagi dan sore, tiada Tuhan (yang wajib disembah) kecuali Allah dan kami tidak menyembah selain kepada-Nya, dengan memurnikan agama Islam, meskipun orang-orang kafir, orang-orang munafiq, orang-orang musyrik membencinya. Tiada Tuhan (yang wajib disembah) kecuali Allah dengan keesaan-Nya, Dia dzat yang menepati janji, dzat yang menolong hamba-Nya dan memuliakan bala tentara-Nya dan menyiksa musuh dengan keesaan-Nya. Tiada Tuhan (yang wajib disembah) kecuali Allah dan Allah Maha Besar.”













