Peningkatan Penjualan Sarang Ketupat Jelang Lebaran 2026
Jelang Hari Raya Idul Fitri 2026, para penjual sarang ketupat di berbagai wilayah mengalami peningkatan permintaan yang signifikan. Salah satu contohnya adalah Linda Koto (43), seorang pedagang yang menjual sarang ketupat di Jalan Denai, Kelurahan Tegal Sari Mandala I, Kecamatan Medan Denai, Kota Medan, Sumatera Utara.
Linda mengungkapkan bahwa dagangannya selalu laris terutama menjelang Lebaran. Namun, ia juga mengeluhkan kenaikan harga bahan baku daun kelapa yang semakin mahal setiap tahunnya. “Sehari baru berjualan, Alhamdulillah pembeli banyak. Sore ke malam warga makin banyak membeli, karena tinggal dua hari lagi kan,” ujarnya saat ditemui di kaki lima pertokoan sambil menganyam sarang ketupat.
Bahan baku daun kelapa yang digunakan Linda dibeli dari Kisaran, Kabupaten Asahan, dengan harga Rp 110.000 per ikat. Dengan satu ikat daun kelapa, Linda bisa membuat hingga 500 sarang ketupat. Untuk harga jual, ia menetapkan antara Rp 10.000 hingga Rp 16.000 per gandeng, tergantung ukuran sarang.
“Semalam saya mendapat hasil Rp 400.000. Kalau saya bisa buat sampai 1.000 sarang per hari, ya bisa makin banyak untungnya, karena yang beli juga banyak. Harga jual tetap sama,” tambah ibu tiga anak ini.
Pedagang lainnya, Zidane (23), juga merasakan ramainya pembeli di musim Lebaran tahun ini. Selain menjual sarang yang sudah jadi, ia juga menyediakan bahan baku daun kelapa dengan harga yang bervariasi tergantung kualitas daunnya. “Harga sarang ketupat mencapai Rp 10.000 per gandeng (20 sarang). Harga bahan bakunya mencapai Rp 110.000 hingga Rp 135.000 satu ikal/bal,” kata Zidane sembari membantu orang tuanya merapikan dagangan.
Sementara itu, Laila (32) mengungkapkan bahwa daun kelapa miliknya didatangkan dari berbagai daerah seperti Hamparan Perak hingga Kota Siantar. Menurutnya, omzet penjualan sarang ketupat selama tiga hari menjelang Lebaran bisa mencapai Rp 2.000.000, yang secara ekonomi sangat membantu dapur rumah tangga. “Itu masih hitung kotor ya, kalau bersihnya sekitar Rp 1.800.000. Kalau dagangan musiman, oke lah,” ujarnya yang sudah menyelesaikan 500 unit sarang sejak pagi tadi.
Meski demikian, Laila mencatat ada sedikit penurunan jumlah pembelian tahun ini yang diduga akibat kondisi ekonomi masyarakat. Ia berharap puncak keramaian pembeli akan terjadi esok hari menjelang hari raya. “Agak terasa, biasa kan ramai. Atau mungkin besok ya ramainya, karena sudah mau dekat Lebaran, orang belanja,” tambah Laila yang meneruskan usaha turun-temurun dari kakek dan orang tuanya tersebut.
Pusat Oleh-Oleh Khas Brebes Mulai Dipadati Pembeli
Selain penjualan sarang ketupat, pusat oleh-oleh khas Brebes juga mulai dipadati pembeli memasuki H-3 menjelang Lebaran 1447 Hijriah. Lonjakan pengunjung terlihat signifikan di sentra oleh-oleh yang berada di jalur arteri pantura Brebes, Jawa Tengah, tepatnya di sebelah barat Jembatan Kali Pemali.
Salah seorang pembeli, Ika (32), mengaku sengaja singgah untuk membeli telur asin sebagai oleh-oleh bagi keluarga di kampung halaman. “Kalau ke Brebes rasanya belum lengkap tanpa beli telur asin. Ini untuk oleh-oleh keluarga di rumah,” kata Ika, pemudik tujuan Semarang pada Rabu (18/3/2026).
Berdasarkan pantauan di lapangan, deretan kendaraan berpelat luar daerah tampak memadati area parkir. Para pengunjung terlihat berburu berbagai produk khas Brebes, dengan telur asin menjadi komoditas yang paling diminati oleh para pemudik yang melintas.
Fenomena menarik terlihat dari pemudik yang sengaja keluar dari jalur bebas hambatan demi berbelanja di jalur arteri. Ratna Dewi (36), pemudik tujuan Pemalang, mengaku sengaja keluar dari Gerbang Tol (GT) Brebes Barat untuk menyisiri jalur pantura. “Sengaja keluar dari tol buat beli telur asin. Kalau di pantura lebih murah dibanding rest area. Mau dibawa ke kampung halaman sekaligus untuk kembali ke Jakarta,” kata Ratna.
Meningkatnya aktivitas di pusat oleh-oleh ini menjadi salah satu indikator mulai menggeliatnya arus mudik Lebaran 2026. Jalur Pantura tetap menjadi pilihan utama bagi pemudik dari arah barat yang ingin membawa buah tangan khas daerah sebelum menuju Jawa Tengah dan sekitarnya.
Persiapan Menghadapi Lonjakan Permintaan
Salah satu pelaku usaha oleh-oleh Telur Asin Yes, Dhani Bagus Purnama, mengatakan pihaknya telah melakukan berbagai persiapan untuk menghadapi lonjakan permintaan selama arus mudik dan arus balik Lebaran tahun ini. “Penjualan mulai meningkat dan kami optimistis tren ini akan terus naik hingga puncak arus mudik. Dibanding hari biasa, permintaan sudah terlihat lebih tinggi,” kata Dhani.
Untuk mengantisipasi lonjakan pembeli, Dhani mengaku telah meningkatkan kapasitas produksi secara signifikan. Berkaca pada pengalaman tahun-tahun sebelumnya, peningkatan produksi telur asin bisa mencapai tiga hingga empat kali lipat dari hari normal. “Kami sudah menambah produksi sejak beberapa hari terakhir. Ini langkah antisipasi agar stok tetap aman saat permintaan memuncak,” jelas Dhani.
Dhani menambahkan, pasokan telur asin mentah sebagian besar masih berasal dari wilayah Kabupaten Brebes, khususnya dari sentra peternakan di kawasan perkotaan. Jika permintaan terus meningkat tajam, pihaknya membuka peluang untuk mengambil pasokan dari luar daerah. “Kami tetap mengutamakan pasokan lokal. Tapi jika kebutuhan meningkat tajam, kemungkinan akan kami tambahkan dari luar Brebes,” imbuhnya.













