Kondisi Jalan yang Mengkhawatirkan di Desa Kendal Kemlagi
Kondisi jalan di Desa Kendal Kemlagi, yang menghubungkan antara Kecamatan Karanggeneng dan Kecamatan Paciran, saat ini sedang dalam kondisi memprihatinkan. Para pengguna jalan dan warga sekitar harus terus berjuang menghadapi genangan air yang tidak kunjung surut. Genangan ini sudah berlangsung selama hampir tiga bulan, membuat kehidupan masyarakat setempat terganggu secara signifikan.
Banjir yang terjadi bukan lagi sekadar kejadian sementara, melainkan menjadi pemandangan harian yang menghambat aktivitas ekonomi dan mobilitas warga. Bahkan, kondisi terkini menunjukkan bahwa genangan air semakin dalam dan parah dibandingkan satu bulan lalu. Sepanjang hampir satu kilometer, badan jalan tertutup oleh air dengan kedalaman bervariasi. Di beberapa titik yang cukup parah, ketinggian air mencapai 20 hingga 30 sentimeter.
Kondisi ini menyebabkan arus lalu lintas tersendat parah. Kendaraan roda dua maupun roda empat harus ekstra hati-hati saat melintas agar tidak terperosok ke lubang jalan yang tidak terlihat di balik keruhnya air. Selain mengganggu pengguna jalan, banjir juga langsung memengaruhi kehidupan warga yang tinggal di pinggir jalan.
Salah satu warga yang terdampak adalah Wardi, yang rumahnya berada tepat di garis depan genangan air. Setiap hari, ia harus berhadapan dengan aroma air yang mulai membusuk dan ancaman kerusakan bangunan akibat rendaman yang berlangsung berbulan-bulan.
“Sudah tiga bulanan ini banjir terjadi, dan rasanya seperti tidak ada ujungnya. Air terus menggenang di depan mata setiap kali saya keluar rumah,” ungkap Wardi dengan nada penuh kekecewaan saat ditemui di lokasi pada Minggu (15/3/2026).
Baginya, setiap hari adalah perjuangan untuk memastikan sisa-sisa kenyamanan di dalam rumahnya tidak hilang ditelan air. Ironisnya, hingga saat ini belum ada tindakan konkret yang signifikan dari pihak pemerintah daerah untuk mengatasi permasalahan di ruas jalan ini secara permanen. Warga merasa seolah dibiarkan berjuang sendirian di tengah krisis infrastruktur yang seharusnya menjadi tanggung jawab pengampu kebijakan.
Ketiadaan bantuan membuat Wardi dan warga terdampak lainnya terpaksa memutar otak. Mereka melakukan tindakan darurat dengan membendung bagian depan rumah menggunakan alat dan material seadanya. Mulai dari karung pasir hingga kayu penyangga dipasang sedemikian rupa agar luapan air dari jalan tidak masuk lebih jauh ke dalam ruang tamu atau kamar tidur mereka.
“Kami hanya bisa membendung dengan alat seadanya. Kalau tidak dibendung, ya air pasti masuk ke rumah dan merusak barang-barang. Kami butuh bantuan, tapi sampai sekarang belum ada tindakan apa-apa dari pemerintah,” lanjut Wardi sambil menunjuk tanggul darurat yang ia buat sendiri di depan pintu rumahnya.
Situasi di ruas jalan ini sebenarnya sempat memanas beberapa waktu lalu. Kelompok santri dan siswa dari kompleks Pondok Mawar Simo sempat melakukan aksi demonstrasi untuk menuntut perbaikan. Aksi tersebut merupakan puncak dari kekesalan para pelajar yang akses pendidikannya terganggu akibat genangan air yang kian parah setiap harinya.
Pasca aksi protes tersebut, memang ada sedikit perubahan di titik dekat pondok pesantren. Petugas sempat mengerahkan pompa air untuk menyedot genangan dan membangun bendungan sementara di sisi jalan. Langkah tersebut berhasil menyurutkan air di titik sasaran demonstrasi, memberikan sedikit napas lega bagi para santri yang melintas.
Namun, penyelesaian tersebut rupanya bersifat sektoral dan tidak menyeluruh. Di luar titik yang disurutkan dengan pompa, genangan tetap menguasai sisa ruas jalan Kendal-Kemlagi. Secara teknis, masalah utama belum terselesaikan karena posisi air memang masih jauh lebih tinggi dibandingkan permukaan jalan yang rendah.
Masyarakat melihat bahwa penggunaan pompa hanyalah solusi jangka pendek yang bersifat “pemadam kebakaran”. Tanpa adanya peninggian jalan atau perbaikan sistem drainase secara total, air akan selalu kembali menggenang begitu pompa dimatikan atau saat hujan kembali turun. Hal ini menunjukkan kegagalan perencanaan infrastruktur di wilayah tersebut.
Ketinggian air yang lebih tinggi dari jalan membuat kawasan ini layaknya sebuah mangkuk yang menampung limpasan air tanpa ada saluran pembuangan yang memadai. Kondisi jalan yang terus menerus terendam pun mulai berisiko mengalami kerusakan di beberapa titik.












