Gempa Dangkal di Sukabumi Akibat Aktivitas Sesar Cimandiri
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,1 mengguncang wilayah Sukabumi, Jawa Barat, pada dini hari Minggu (15/3/2026). Peristiwa ini terjadi pada pukul 00.36 WIB dan dipicu oleh aktivitas sesar aktif yang berada di sekitar kawasan tersebut.
Berdasarkan data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), episenter gempa berada di darat sekitar 8 kilometer tenggara Kota Sukabumi dengan kedalaman 5 kilometer. Hal ini menunjukkan bahwa gempa yang terjadi merupakan jenis gempa dangkal yang sering kali dirasakan oleh masyarakat di sekitar area tersebut.
Kepala BBMKG Wilayah II Tangerang, Hartanto, menjelaskan bahwa gempa ini disebabkan oleh aktivitas sesar aktif. Ia menyatakan bahwa lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya memperkuat klaim bahwa gempa tersebut termasuk dalam kategori gempa dangkal akibat pergerakan sesar.
Wilayah Sukabumi memang berada di jalur Sesar Cimandiri, salah satu sesar aktif di Jawa Barat. Jalur ini membentang dari kawasan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat hingga Pelabuhanratu, Kabupaten Sukabumi. Aktivitas sesar ini kerap memicu gempa bumi dangkal yang dapat dirasakan oleh penduduk di sekitar wilayah tersebut.
Berdasarkan estimasi peta guncangan (Shakemap) BMKG dan laporan masyarakat, gempa dirasakan cukup kuat di wilayah Nyalindung dengan intensitas IV MMI. Pada skala ini, getaran dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah dan sebagian orang di luar rumah, serta menyebabkan pintu dan jendela berderik.
Di wilayah Sukabumi, Kabandungan, Tugubandung, Cipeuteuy, Cihamerang, Mekarjaya hingga Cianaga, getaran dirasakan pada skala III hingga IV MMI. Sementara itu, di wilayah Cianjur Kota, Cipanas, Kalapanunggal, Palabuhanratu, Cimahi, Lembang, Kabupaten Bandung Barat hingga Bogor, gempa dirasakan dengan intensitas II hingga III MMI.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan akibat gempa tersebut. BMKG juga menyatakan bahwa hingga pukul 01.15 WIB, hasil monitoring belum menunjukkan adanya aktivitas gempa bumi susulan (aftershock).
BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan memastikan informasi yang diperoleh berasal dari kanal resmi BMKG. Mereka juga menyarankan agar masyarakat tidak mudah terpancing oleh informasi yang tidak jelas sumbernya.
Sebelumnya, sejumlah warga mengaku merasakan getaran gempa tersebut dan sempat panik hingga berlarian keluar rumah. Aprianti (34), warga Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi, mengaku terkejut saat merasakan getaran gempa ketika dirinya sedang tertidur di dalam rumah.
“Saya lagi tidur, tiba-tiba terasa getaran. Saya langsung bangun dan lari keluar rumah karena takut,” kata Aprianti kepada Tribun, Minggu (15/3/2026). Ia menuturkan, suaminya yang saat itu berada di depan rumah juga langsung berlari masuk ke dalam rumah untuk menyelamatkan anak mereka yang sedang tertidur di kamar.
Hal serupa juga disampaikan Rudi (45), warga lainnya di Kabupaten Sukabumi. Ia mengatakan getaran gempa terasa cukup kuat saat dirinya bersama warga baru saja selesai melakukan kerja bakti di area masjid.
Menurutnya, meski getaran hanya berlangsung beberapa detik, namun cukup membuat warga panik dan bergegas menjauh dari bangunan untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan.
“Saat itu kami baru beres kerja bakti. Tiba-tiba terasa getaran cukup kencang, seperti anjlok. Kami yang ada di luar langsung berlarian karena kaget,” ujar Rudi.












