Layanan Bank Jambi Masih Lumpuh, Nasabah Terpaksa Berdesak-desakan
Layanan ATM dan mobile banking Bank Jambi masih mengalami gangguhan menjelang Lebaran 2026. Kondisi ini menyebabkan kepanikan di kalangan nasabah, terutama di Unit Siulak, Kerinci. Banyak dari mereka terlibat dalam aksi berdesak-desakan demi menarik uang tunai. Kepadatan ini dipicu oleh pencairan gaji perangkat desa yang bertepatan dengan kebutuhan Ramadan.
Kondisi ini memicu keluhan dari warganet, yang merasa bahwa penanganan teknis pihak bank terlalu lambat. Beberapa dari mereka bahkan mengancam akan beralih ke bank lain. Muncul juga saran untuk kembali menggunakan sistem penarikan kolektif via bendahara sementara waktu, agar tidak terjadi lagi insiden serupa.
Puncak Kejadian di Bank Jambi Unit Siulak
Puncak kekacauan terjadi di Bank Jambi Unit Siulak, Kabupaten Kerinci, pada Sabtu (14/3/2026). Kepadatan massa yang luar biasa viral di media sosial setelah para nasabah nekat berdesak-desakan demi mendapatkan uang tunai. Situasi semakin memanas karena insiden ini bertepatan dengan jadwal pencairan gaji perangkat desa di Kabupaten Kerinci dan Sungai Penuh.
Dalam video yang diunggah akun Instagram @infojambi_, tampak kerumunan nasabah saling dorong di depan pintu masuk. Padahal, biasanya pihak bank menerapkan sistem nomor antrean yang tertib. Namun, rasa cemas karena kebutuhan Lebaran yang mendesak membuat warga mengabaikan prosedur tersebut.
Keluhan Nasabah dan Ancaman Eksodus
Kegaduhan ini memicu beragam komentar pedas dari warganet yang merasakan langsung dampak dari lambannya penanganan teknis pihak bank:
- @dia***: Mengisahkan pengalaman serupa di Singkut, “Ampun nian tas hampir putus, sendal hampir tertinggal dibuatnya. Untunglah perjuangan demi ngambil HAK ni dak sia2 antri lama.”
- @unt***: Menyoroti risiko hilangnya kepercayaan nasabah, “Terlalu lama penganangan masalah Bank 9 ni, kondisi nak lebaran kek gini… Aneh banyak ni kehilangan nasabah setelah ini duit gaji cuma singgah terus tf ke bank lain.”
- @ona***: Menyarankan opsi darurat, “Cb buat opsi penarikan di wakilkan sja k bendahara seperti zaman konvensional… jadi para nasabah tidak perlu berebut kayak gini.”
- @gep***: Mengimbau ketertiban, “Seharusnya budayakan antri jangan sampai berdesak desakan. Semua orang pasti butuh tapi bukan begitu caranya.”
- @abd***: “Kapan lah elok e mobile banking dan ATM ny.”
Darurat Layanan di Bulan Ramadan
Krisis ini menambah daftar panjang keluhan publik Jambi selama bulan Ramadan 2026. Mulai dari masalah infrastruktur jalan yang memakan korban jiwa, distribusi air PDAM yang macet, hingga kini sistem perbankan yang lumpuh.
Nasabah berharap pihak manajemen segera membuka outlet tambahan atau menyediakan layanan tarik tunai darurat agar tidak terjadi insiden fisik di kantor cabang lain. Hingga saat ini, pihak manajemen menegaskan bahwa dana nasabah tetap aman dan tersimpan di dalam sistem perbankan, namun tidak dapat ditarik secara otomatis karena kegagalan sinkronisasi data pada server ATM dan mobile banking.
Meski demikian, lambannya transparansi mengenai penyebab teknis—apakah karena serangan siber (ransomware) atau kerusakan infrastruktur vital—membuat publik spekulatif, mengingat dana tersebut sangat krusial untuk perputaran ekonomi daerah menjelang Lebaran.
6.000 Rekening Dibobol dan Aliran Dana Kripto
Kepanikan warga di Siulak bukan tanpa alasan. Berdasarkan laporan Kompas.com, polisi mengungkapkan bahwa sistem keamanan Bank Jambi diduga telah diretas sejak 22 Februari 2026. Data terbaru menyebutkan sebanyak 6.000 rekening nasabah menjadi korban dengan total kerugian mencapai Rp143 miliar.
Polda Jambi yang mendalami kasus ini menemukan fakta mengejutkan mengenai aliran dana hasil pembobolan tersebut. Sebagian besar uang nasabah diduga telah dipindahkan secara ilegal melalui berbagai transaksi berlapis, dan belasan miliar di antaranya terindikasi dilarikan ke aset kripto untuk menghilangkan jejak digital pelaku. Hal inilah yang menyebabkan pemulihan sistem oleh vendor dan izin operasional dari Bank Indonesia (BI) berjalan sangat lamban karena proses audit forensik yang rumit.













