Aktivitas Gunung Merapi Terus Dipantau oleh BPPTKG
Gunung Merapi, yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah, tercatat mengalami 8 kali guguran lava ke arah Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum mencapai 2000 meter. Pemantauan dilakukan oleh Balai Penyelidikan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta sepanjang periode pengamatan hari ini, Minggu (15/3/2026), pada pukul 00.00-06.00 WIB.
Data Gempa dan Aktivitas Vulkanik
Dalam pemantauan kegempaan, tercatat 41 kali gempa Guguran dengan amplitudo berkisar antara 1-43 mm dan durasi gempa antara 49.87-143.59 detik. Selain itu, terdapat 32 kali gempa Hybrid/Fase Banyak dengan amplitudo 1-34 mm, S-P tidak teramati, serta durasi gempa antara 11.86-36.58 detik.
Hingga saat ini, BPPTKG masih menetapkan Level III (Siaga) untuk Gunung Merapi. Hal ini dilakukan sebagai bentuk kewaspadaan terhadap potensi bahaya yang mungkin terjadi akibat aktivitas vulkanik gunung tersebut.
Observasi Visual dan Cuaca
Secara visual, Gunung Merapi terlihat jelas hingga tertutup kabut dengan intensitas 0-I. Teramati pula asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 20 meter dari puncak. Dari sisi klimatologi, cuaca di kawasan puncak Merapi cerah hingga berawan dengan angin tenang ke arah timur. Suhu udara berkisar antara 18-20°C, kelembaban 88-92.1 persen, dan tekanan udara 873-916 mmHg.
Rekomendasi BPPTKG Mengenai Potensi Bahaya
Berdasarkan data pemantauan, BPPTKG Yogyakarta memberikan rekomendasi terkait potensi bahaya yang mungkin terjadi, yaitu guguran lava dan awan panas guguran (APG). Area yang berpotensi terkena dampak tersebut meliputi:
- Sektor selatan-barat daya: Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 km.
- Sektor tenggara: Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol sejauh maksimal 5 km.
- Lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
Data pemantauan menunjukkan bahwa suplai magma masih berlangsung, sehingga berpotensi memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya.
Imbauan kepada Masyarakat
Masyarakat diimbau agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya dan tetap waspada terhadap bahaya lahar serta awan panas guguran (APG), terutama saat terjadi hujan di sekitar Gunung Merapi. Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali.











