Peran Revitalisasi Irigasi dalam Meningkatkan Produktivitas Pertanian
Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, menekankan bahwa program revitalisasi irigasi menjadi salah satu kunci utama dalam meningkatkan produktivitas pertanian nasional. Tujuan utamanya adalah untuk mendorong peningkatan luas panen tanpa harus menambah lahan sawah.
Menurutnya, pihak yang bertanggung jawab atas revitalisasi irigasi adalah Kementerian PUPR, khususnya Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. Koordinasi dengan Kementerian Pertanian sangat penting karena air tersebut harus sampai ke tanaman.
“Nah, Direktur Irigasi berkoordinasi dengan seluruh Gapoktan, seluruh dinas, dan seluruh luas baku sawah kita yang terdampak irigasi kan, irigasi yang rusak, itu kemudian dilaporkan ke Kementan, kemudian disinkronisasi dengan Kementerian PU, kemudian dikerjakan,” jelas Sudaryono.
Pentingnya Koordinasi dan Data Lapangan
Sudaryono menjelaskan bahwa pelaksanaan Inpres irigasi tidak menghadapi kendala besar, kecuali pada aspek validitas dan kecepatan data dari lapangan. Ia menegaskan bahwa data yang akurat dan cepat sangat penting dalam proses ini.
“Mungkin kalau ditanya kendalanya apa, saya kira mungkin kendalanya tinggal bagaimana cepatnya dan validnya data dari bawah. Jadi lebih baik numpuk dobel lapor daripada tidak ada yang lapor,” tambahnya.
Ketersediaan Air sebagai Faktor Utama
Ketersediaan air juga menjadi fokus utama dalam mendukung produktivitas pertanian. Saat ini, lahan sawah yang memiliki irigasi hanya sekitar 24% dari total luas baku sawah nasional. Pemerintah menargetkan angka tersebut dapat meningkat menjadi 50% dalam waktu dekat.
“Air ini menjadi penting. Kalau pupuk itu bisa diproduksi di pabrik, benih bisa diciptakan karena kebutuhannya kecil, yang tidak bisa orang ciptakan itu adalah air,” ujar Sudaryono.
Dia menjelaskan bahwa peningkatan produksi tidak selalu bergantung pada perluasan lahan, melainkan pada intensitas tanam. Dengan ketersediaan air yang memadai, lahan yang sama dapat ditanami lebih dari sekali dalam setahun.
Contoh Luas Baku Sawah dan Panen
Sebagai ilustrasi, Sudaryono menyebut luas baku sawah nasional sekitar 7 juta hektare, namun luas panen bisa mencapai 10 juta hingga 11 juta hektare karena adanya lahan yang ditanami lebih dari satu kali dalam setahun.
“Jadi bisa lihat lahannya 7 juta, panennya itu 10 juta, karena ada lahan-lahan yang panennya lebih dari satu kali,” jelasnya.
Target Perluasan Irigasi oleh Kementerian PUPR
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum, Wida Nurfaida, menambahkan bahwa pemerintah telah merealisasikan pembangunan dan revitalisasi irigasi seluas 653.158 hektare pada tahun sebelumnya, dengan anggaran sekitar Rp10,1 triliun hingga Rp10,15 triliun dari total alokasi Rp12 triliun.
Dengan sinergi antar kementerian dan percepatan pembangunan irigasi, pemerintah optimistis produktivitas pertanian nasional akan terus meningkat, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dalam jangka panjang.
“Untuk target next-nya di 2026 targetnya memang sesuai yang disampaikan dari Kementerian Pertanian ada 750.000 hektare ya. 752.000 hektare memang saat ini belum ada alokasinya namun teman-teman di Sumber Daya Air sudah menyiapkan kesiapan, koordinasi dengan Kementerian Pertanian,” ujar Wida.













