Aktivitas Menyapu Koin di Jembatan Sewo Masih Berlangsung
Pada Kamis pagi, 19 Maret 2026, aktivitas menyapu koin di kawasan Jembatan Sewo, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, masih terpantau berlangsung. Hal ini terlihat dari pengawasan melalui kamera CCTV milik Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Indramayu yang menunjukkan sejumlah warga tetap melakukan aktivitas tersebut.
Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi tersebut dan mengambil langkah tegas untuk menghentikan praktik tersebut. Dalam sidaknya, Dedi tidak hanya memberikan imbauan, tetapi juga solusi konkret berupa kompensasi kepada para penyapu koin agar menghentikan aktivitasnya sementara waktu.
Kompensasi diberikan dengan tujuan agar para pelaku dapat beristirahat selama 12 hari dan tidak lagi melakukan aktivitas berbahaya di area jembatan. Pemerintah berharap langkah ini dapat mengurangi risiko kecelakaan sekaligus menertibkan praktik yang dinilai membahayakan keselamatan, baik bagi penyapu koin maupun pengguna jalan.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa kebijakan tersebut belum sepenuhnya efektif. Masih adanya warga yang kembali ke lokasi untuk menyapu koin menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas pengawasan serta tingkat ketergantungan ekonomi masyarakat terhadap aktivitas tersebut.
Jembatan Sewo sendiri selama ini dikenal sebagai salah satu titik rawan praktik lempar koin oleh pengendara yang melintas. Tradisi ini kemudian dimanfaatkan oleh sebagian warga untuk mengais rezeki dengan menyapu dan mengumpulkan koin yang berjatuhan di jalan. Sayangnya, aktivitas ini kerap dilakukan di tengah lalu lintas kendaraan yang padat, sehingga berisiko tinggi menyebabkan kecelakaan.
Pemerintah daerah sebenarnya telah berulang kali mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas tersebut. Selain membahayakan diri sendiri, praktik ini juga dinilai mengganggu kelancaran arus lalu lintas dan berpotensi memicu insiden yang lebih besar.
Langkah Gubernur Dedi Mulyadi memberikan kompensasi dinilai sebagai pendekatan humanis dalam menyelesaikan persoalan sosial ini. Alih-alih langsung melakukan penertiban secara represif, pemerintah mencoba memberikan alternatif agar masyarakat tidak kehilangan sumber penghasilan secara tiba-tiba.
Meski demikian, kondisi terbaru menunjukkan bahwa pendekatan tersebut masih menghadapi tantangan di lapangan. Faktor ekonomi diduga menjadi alasan utama warga tetap kembali beraktivitas, meskipun sudah ada imbauan dan bantuan dari pemerintah.
Ke depan, diperlukan langkah yang lebih komprehensif dan berkelanjutan untuk menyelesaikan persoalan ini. Tidak hanya berupa larangan, tetapi juga penyediaan lapangan kerja alternatif serta pengawasan yang lebih ketat di lokasi. Pemerintah daerah bersama aparat terkait diharapkan dapat terus memantau situasi di Jembatan Sewo dan memastikan keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama.
Tanpa penanganan yang konsisten, praktik sapu koin dikhawatirkan akan terus berulang dan berpotensi menimbulkan risiko yang lebih besar. Fenomena ini menjadi pengingat bahwa persoalan sosial tidak dapat diselesaikan dengan satu kebijakan saja. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah dan masyarakat untuk menciptakan solusi yang tidak hanya tegas, tetapi juga berkelanjutan.













