Ringkasan Berita
Teks misa sore hari Minggu lengkap renungan harian Katolik.
Teks misa sore hari untuk hari Minggu IV Prapaskah Tahun A dengan warna liturgi ungu.
Teks misa sore hari Minggu disusun oleh P. Petrus Cristologus Dhogo, SVD.
Mari simak teks misa sore hari Minggu 15 Maret 2026.
Teks misa sore hari Minggu lengkap renungan harian Katolik.
Teks misa sore hari untuk hari Minggu IV Prapaskah Tahun A dengan warna liturgi ungu.
Teks misa sore hari Minggu disusun oleh P. Petrus Cristologus Dhogo, SVD.
Ikuti misa sore hari Minggu dengan penuh iman.
Persiapan Misa
Para Petugas Liturgi berkumpul di sakristi. Pada meja perayaan disiapkan lilin bernyala yang mengapiti salib. Untuk bacaan, siapkan Alkitab. Untuk nyanyian, bisa siapkan buku nyanyian.
Sedapat mungkin, untuk kekhusukan suasana, alat-alat komunikasi dimatikan.
Ketika memulai, Pemimpin (P) berkata, “Penolong kita ialah Tuhan”, dan yang lain menyahut, “Yang menjadikan langit dan bumi”.
Kemudian dinyanyikan lagu pembuka.
01. TANDA SALIB DAN SALAM
P : Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.
U : Amin.
P : Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, cinta kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus beserta kita.
U : Sekarang dan selama-lamanya.
02. KATA PEMBUKA
P: Hari ini, dalam Minggu Keempat Masa Prapaskah, kita diajak merenungkan keadaan hati kita. Tuhan memperhatikan isi hati, bukan sekadar penampilan luar. Oleh karena itu, refleksi kita hari ini menekankan kesetiaan, iman, dan kemurnian hati. Dalam bacaan pertama, kita mendengar kisah Daud yang diurapi menjadi raja menggantikan Saul. Saul kehilangan kepercayaan Tuhan karena ketidaksetiaannya. Sebaliknya, Daud, meski masih muda, dipilih karena hatinya bersih dan setia kepada Tuhan. Kisah ini mengajarkan bahwa kesetiaan hati lebih penting daripada usia atau status.
Dalam bacaan kedua, Rasul Paulus mengingatkan kita untuk hidup sebagai anak-anak terang. Kita dipanggil untuk menjauhi kegelapan, karena kegelapan menuntun kepada kebinasaan. Bacaan ini menegaskan pentingnya memilih hidup yang benar dan setia kepada Tuhan.
Dalam bacaan Injil, Yesus menyembuhkan seorang buta sejak lahir. Orang ini kemudian menjadi saksi yang teguh bagi Yesus, meski belum pernah melihat-Nya. Kisah ini menunjukkan bahwa penglihatan hati dan iman lebih penting daripada penglihatan mata.
Mari kita membuka hati dan menyiapkan diri untuk menyambut terang keselamatan yang Yesus bawa. [hening sejenak]
03. TOBAT DAN PERMOHONAN AMPUN
P : Marilah menyesali dan mengakui bahwa kita telah berdosa, supaya kita siap mendengarkan Sabda Allah, Terang dan Pedoman hidup kita.
U : Saya mengaku kepada Allah yang Mahakuasa, dan kepada saudara sekalian, bahwa saya telah berdosa, dengan pikiran dan perkataan, dengan perbuatan dan kelalaian. Saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa. Oleh sebab itu saya mohon kepada Santa Perawan Maria, kepada para malaikat dan orang kudus dan kepada saudara sekalian, supaya mendoakan saya pada Allah, Tuhan kita.
P : Semoga Allah yang Mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita, dan mengantar kita ke hidup yang kekal.
U : Amin.
04. DOA PEMBUKA
P : Marilah kita berdoa, [hening sejenak]
Tuhan yang mahakuasa dan kekal, kasih-Mu tidak terbatas kepada kami. Semoga mata hati kami selalu terbuka untuk melihat keagungan-Mu yang luar biasa dalam mendampingi hidup kami. Semoga kami pun diteguhkan untuk menjadi utusan-Mu di mana pun kami berada. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa.
U : Amin.
05. AJAKAN MENDENGARKAN SABDA TUHAN
P : Marilah kita membuka hati kita untuk mendengarkan Sabda Tuhan dan menerimanya agar Sabda Tuhan menjadi pelita iman kita dan tongkat penuntun jalan hidup kita.
[Bacaan dibacakan dari Alkitab]
06. BACAAN PERTAMA (1Sam. 16:1b,6-7,10-13a)
L : Bacaan dari Kitab Pertama Samuel.
Ketika raja Saul ditolak, berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah. Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku.”
Ketika mereka masuk, Samuel melihat Eliab dan berpikir: “Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-Nya.”
Tetapi TUHAN berfirman kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”
Isai kemudian menyuruh ketujuh anaknya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata: “Semuanya ini tidak dipilih TUHAN.”
Samuel bertanya kepada Isai: “Inikah anakmu semuanya?”
Isai menjawab: “Masih tinggal yang bungsu, tetapi sedang menggembalakan kambing domba.”
Samuel berkata: “Suruhlah memanggil dia, sebab kita tidak akan duduk makan sebelum ia datang ke mari.”
Kemudian disuruh menjemput dia. Ia kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok. Lalu TUHAN berfirman: “Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia.”
Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya.
Demikianlah Sabda Tuhan
U : Syukur kepada Allah.
07. MENDARASKAN MAZMUR TANGGAPAN
Refren (Mzm. 23:1)
Tuhanlah gembalaku, aku takkan berkekurangan.
Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6
TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
Ia membaringkan aku di padang berumput hijau,
Ia membimbing aku ke air yang tenang;
Ia menyegarkan jiwaku. (Refren)
Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman,
aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku, gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. (Refren)
Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak;
pialaku penuh melimpah. (Refren)
Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa. (Refren)
08. BACAAN KEDUA (Ef. 5:8-14)
L : Bacaan dari Surat Rasul Paulus Kepada Jemaat di Efesus
Saudara-saudari, memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan. Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan berbuahkan apa-apa, tetapi yang tidak sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu. Sebab menyebutkan sajapun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan. Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang. Itulah sebabnya dikatakan: “Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.”
Demikianlah Sabda Tuhan.
U : Syukur kepada Allah.
09. BAIT PENGANTAR INJIL (Yoh. 8:12b)
P : Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal
U : Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal
P : Akulah terang dunia, sabda Tuhan,* siapa saja yang mengikuti Aku mempunyai terang hidup.
U : Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal
10. INJIL (Yoh. 9:1-41)
P : Marilah kita bersama-sama mendengarkan Injil Yesus Kristus menurut Yohanes.
Pemimpin dan semua yang hadir membuat tanda salib dengan ibu jari pada dahi, mulut, dan dada. Kemudian Pemimpin membacakan Injil.
Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?”
Jawab Yesus: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi supaya pekerjaan Allah dinyatakan di dalam dia. Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja. Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia.”
Setelah Ia mengatakan semuanya itu, Ia meludah ke tanah, mengaduk ludah itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi dan berkata kepadanya: “Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam.” Siloam artinya: “Yang diutus.”
Maka pergilah orang itu, ia membasuh dirinya lalu kembali dengan matanya sudah melek. Tetapi tetangga-tetangganya dan mereka yang dahulu mengenalnya sebagai pengemis berkata: “Bukankah dia ini yang selalu mengemis?” Ada yang berkata: “Benar, dialah ini.” Ada pula yang berkata: “Bukan, tetapi ia serupa dengan dia.” Orang itu sendiri berkata: “Benar, akulah itu.”
Kata mereka kepadanya: “Bagaimana matamu menjadi melek?” Jawabnya: “Orang yang disebut Yesus itu mengaduk tanah, mengoleskannya pada mataku dan berkata kepadaku: Pergilah ke Siloam dan basuhlah dirimu. Lalu aku pergi dan setelah aku membasuh diriku, aku dapat melihat.”
Lalu mereka berkata kepadanya: “Di manakah Dia?” Jawabnya: “Aku tidak tahu.” Lalu mereka membawa orang yang tadinya buta itu kepada orang-orang Farisi. Adapun hari waktu Yesus mengaduk tanah dan memelekkan mata orang itu adalah hari Sabat.
Karena itu orang-orang Farisi pun bertanya kepadanya bagaimana matanya menjadi melek. Jawabnya: “Ia mengoleskan adukan tanah pada mataku, lalu aku membasuh diriku, dan sekarang aku dapat melihat.” Maka kata sebagian orang-orang Farisi itu: “Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat.” Sebagian pula berkata: “Bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat mujizat yang demikian?” Maka timbullah pertentangan di antara mereka.
Lalu kata mereka pula kepada orang buta itu: “Dan engkau, apakah katamu tentang Dia, karena Ia telah memelekkan matamu?” Jawabnya: “Ia adalah seorang nabi.”
Tetapi orang-orang Yahudi itu tidak percaya bahwa tadinya ia buta dan baru dapat melihat lagi, sampai mereka memanggil orang tuanya dan bertanya kepada mereka: “Inikah anakmu, yang kamu katakan bahwa ia lahir buta? Kalau begitu bagaimanakah ia sekarang dapat melihat?”
Jawab orang tua itu: “Yang kami tahu ialah, bahwa dia ini anak kami dan bahwa ia lahir buta, tetapi bagaimana ia sekarang dapat melihat, kami tidak tahu, dan siapa yang memelekkan matanya, kami tidak tahu juga. Tanyakanlah kepadanya sendiri, ia sudah dewasa, ia dapat berkata-kata untuk dirinya sendiri.” Orang tuanya berkata demikian karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi, sebab orang-orang Yahudi itu telah sepakat bahwa setiap orang yang mengaku Dia sebagai Mesias, akan dikucilkan. Itulah sebabnya mereka berkata: “Ia telah dewasa, tanyakanlah kepadanya sendiri.”
Lalu mereka memanggil sekali lagi orang yang tadinya buta itu dan berkata kepadanya: “Katakanlah kebenaran di hadapan Allah; kami tahu bahwa orang itu orang berdosa.” Jawabnya: “Apakah orang itu orang berdosa, aku tidak tahu; tetapi satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat.”
Kata mereka kepadanya: “Apakah yang diperbuat-Nya padamu? Bagaimana Ia memelekkan matamu?” Jawabnya: “Telah kukatakan kepadamu, dan kamu tidak mendengarkannya; mengapa kamu hendak mendengarkannya lagi? Barangkali kamu mau menjadi murid-Nya juga?”
Sambil mengejek mereka berkata kepadanya: “Engkau murid orang itu tetapi kami murid-murid Musa. Kami tahu, bahwa Allah telah berfirman kepada Musa, tetapi tentang Dia itu kami tidak tahu dari mana Ia datang.”
Jawab orang itu kepada mereka: “Aneh juga bahwa kamu tidak tahu dari mana Ia datang, sedangkan Ia telah memelekkan mataku. Kita tahu, bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa, melainkan orang-orang yang saleh dan yang melakukan kehendak-Nya. Dari dahulu sampai sekarang tidak pernah terdengar, bahwa ada orang yang memelekkan mata orang yang lahir buta. Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa.”
Jawab mereka: “Engkau ini lahir sama sekali dalam dosa dan engkau hendak mengajar kami?” Lalu mereka mengusir dia ke luar.
Yesus mendengar bahwa ia telah diusir ke luar oleh mereka. Kemudian Ia bertemu dengan dia dan berkata: “Percayakah engkau kepada Anak Manusia?” Jawabnya: “Siapakah Dia, Tuhan? Supaya aku percaya kepada-Nya.” Kata Yesus kepadanya: “Engkau bukan saja melihat Dia; tetapi Dia yang sedang berkata-kata dengan engkau, Dialah itu!” Katanya: “Aku percaya, Tuhan!” Lalu ia sujud menyembah-Nya.
Kata Yesus: “Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta.” Kata-kata itu didengar oleh beberapa orang Farisi yang berada di situ dan mereka berkata kepada-Nya: “Apakah itu berarti bahwa kami juga buta?” Jawab Yesus kepada mereka: “Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu.”
P : Demikianlah Injil Tuhan.
U : Terpujilah Kristus.
11. RENUNGAN HARIAN KATOLIK
Bacaan Injil hari ini berbicara tentang penyembuhan seorang yang buta sejak lahir. Hal ini tentu menggembirakan. Sayangnya, orang-orang Farisi mempersoalkannya karena Yesus menyembuhkan orang itu pada hari Sabat. Mari kita dalami satu dua poin dari kisah ini untuk perkembangan hidup iman kita.
1. Menjadi utusan Tuhan
Orang buta ini diminta Yesus untuk membasuh dirinya di kolam Siloam. Menariknya, Siloam berarti “yang diutus”. Orang itu pun pergi, membasuh dirinya, dan ia dapat melihat. Kisah penyembuhan pun selesai.
Namun, kisah ini diperpanjang dengan upaya orang buta tersebut untuk meyakinkan semua orang, terutama orang Farisi, bahwa Yesus adalah Tuhan. Ketika orang Farisi tidak dapat mengalahkan kesaksianya, mereka pun mengusirnya. Kisah ini menunjukkan bahwa orang buta itu menjadi utusan Tuhan, memberikan kesaksian tentang cinta dan kasih Tuhan yang luar biasa.
Kita pun, oleh rahmat sakramen pembaptisan, memiliki kewajiban untuk menjadi utusan Tuhan. Pembaptisan kita seperti peristiwa pembasuhan orang buta di kolam Siloam. Tanpa menjadikan diri sebagai utusan yang memberikan kesaksian tentang cinta Tuhan, kita sebenarnya tidak menjalani kewajiban pembaptisan kita. Sama seperti orang buta, kita memiliki keterbatasan dalam pengetahuan akan Tuhan, tetapi pengalaman iman kita tentang kasih Tuhan yang menuntun hidup setiap hari merupakan pelajaran berharga yang dapat kita bagikan.
2. Melihat Tuhan dengan mata hati
Perbedaan orang buta sejak lahir dengan orang Farisi adalah orang buta merasakan kehadiran Tuhan. Ia disembuhkan dan akhirnya dapat melihat Tuhan dengan mata kepalanya sendiri. Sebaliknya, orang Farisi tidak buta matanya, tetapi mereka tidak merasakan kehadiran Tuhan, sehingga mata hati mereka buta dalam mengidentifikasi Yesus sebagai Tuhan.
Yesus berkata, “Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: kami melihat, maka tetaplah dosamu.” Artinya, orang Farisi berdosa karena menyatakan melihat Tuhan padahal hati mereka buta.
Dari kisah ini, kita belajar untuk membuka mata hati dan merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup. Tuhan tidak hanya dijumpai lewat pengetahuan, tetapi lebih dirasakan melalui pengalaman sederhana dalam hati. Orang yang mata hatinya terbuka mampu melihat kehadiran Tuhan yang menyapanya dalam hidup. Kita diajak untuk tidak seperti orang Farisi yang mengetahui banyak tentang Tuhan tetapi hatinya tidak mampu merasakan kehadiran-Nya. Mari kita buka hati agar selalu merasakan kehadiran Tuhan di setiap perjuangan hidup kita.
Tuhan memberkati kita semua.
12. HENING SEJENAK
13. SYAHADAT
P : Marilah menanggapi mengungkapkan iman kepercayaan kita kepada Tuhan dengan mengucapkan Syahadat. Aku percaya akan Allah, Bapa yang mahakuasa…..
14. DOA UMA
T
P : Saudara-saudari terkasih, Allah Bapa yang maharahim selalu menanti-nantikan kehadiran kita.
Marilah kita panjatkan doa kepada-Nya dengan penuh pengharapan.
P : Bagi Gereja yang kudus. Kita berdoa semoga Allah Bapa berkenan memberkati para pemimpin Gereja agar melayani umat dengan bijaksana dan hati yang ikhlas, serta mampu mengembangkan hidp persaudaraan dan kerja sama yang baik. Marilah kita mohon….
P : Bagi masyarakat kita. Semoga mata kita semakin terbuka terhadap penderitaan dan keperluan orang-orang di sekitar kita, dan tidak hanya memikirkan diri sendiri, kelompok, atau memperkaya keluarga.
Marilah kita mohon….
P : Bagi mereka yang sakit dan cacat mental. Semoga Roh Allah membangkitkan dalam diri kita rasa belas kasih serta perhatian yang tulus kepada mereka yang sakit dan cacat mental. Marilah kita mohon….
P : Bagi kita semua. Semoga selama masa Parapaskah ini, mata hati kita semakin terbuka untuk memandang sesama sebagai saudara, serta berusaha meningkatkan kerja sama dalam membangun stasi, paroki, dan masyarakat kita.
Marilah kita mohon….
P : Kita hening sejenak untuk menyerahkan doa dan permohonan pribadi kita masing-masing.
[hening sejenak lalu lanjut].
P : Allah Bapa yang mahakuasa, dengan doa-doa permohonan ini, perkenankanlah kami bersyukur kepada-Mu atas anugerah-Mu yang telah kami terima. Buatlah kami semakin peka terhadap keperluan orang-orang yang kami layani dan mereka yang kami jumpai hari ini, kini dan sepanjang masa.
U : Amin
15. KOLEKTE
[Selanjutnya ada pengumpulan kolekte sebagai perwujudan cinta kepada Sang Sabda dan kepada sesama yang berkekurangan, diiringi lagu yang sesuai. Kolekte dikumpulkan lalu dihantar dan diletakkan di depan mimbar] diiringi lagu persembahan yang bernada Syukur Kepada Tuhan atau Ajakan Berbagi.
16. DOA PUJIAN
[Sesudah Kolekte, Pemimpin membawakan Doa Pujian sambil berdiri di depan umat, menghadap ke altar dan umat berdiri dan setiap kali mendaraskan aklamasi bersama.]
P : Saudara-saudari terkasih, Allah yang maharahim telah menganugerahkan Masa Prapaskah ini sebagai masa untuk bertobat. Maka marilah kita memuji Dia dengan berseru:
Pujilah, puji Allah, Tuhan yang maharahim.
U : Pujilah, puji Allah, Tuhan yang maharahim.
P : Bapa yang maharahim, kini Engkau mengajak kami menyegarkan iman kami dengan menyesali kekurangan dan kelalaian kami, dan bertobat kepada-Mu. Maka kami berseru:
U : Pujilah, puji Allah, Tuhan yang maharahim.
P : Ya Bapa, Engkau mendorong kami untuk melepaskan diri dari belenggu nafsu yang tidak teratur, agar kami, dalam kesibukan mengurus hal-hal yang fana, tidak melupakan hal-hal yang bernilai abadi. Maka kami berseru:
U : Pujilah, puji Allah, Tuhan yang maharahim.
P : Ya Bapa, Engkau mengajak kami bersyukur kepada-Mu dengan hidup secara sederhana, agar kami lebih mampu menghayati kemurahan hati-Mu dan dapat memberi bantuan kepada orang yang berkekurangan. Maka kami berseru:
U : Pujilah, puji Allah, Tuhan yang maharahim.
P : Dengan demikian, ya Bapa, Engkau menyiapkan kami agar layak merayakan misteri Paskah, dan kelak menikmati Paskah abadi di surga bersama Engkau. Maka kami berseru:
U : Pujilah, puji Allah, Tuhan yang maharahim.
P : Maka ya Bapa, dengan gembira hati, bersama seluruh umat beriman, dalam kesatuan dengan Bapa Suci Leo XIV, Bapa Uskup kami [nama Uskup setempat] dan Pastor Paroki kami [nama pastor paroki setempat], kami melambungkan madah pujian bagi-Mu dengan berseru:
[menyanyikan satu lagu bertemakan Prapaskah]
Menyusul RITUS KOMUNI. Dalam Ibadah Sabda terdapat dua kemungkinan, yaitu (1) menyambut komuni (lihat cara A), (2) tidak menyambut komuni, tetapi umat diajak menghayati komuni batin/rindu (lihat cara B).
17A. Cara A: DENGAN KOMUNI
Sesudah Doa Pujian, Pemimpin menuju ke altar untuk mempersiapkan komuni. Ia membentangkan kain korporale di atas altar dan kemudian mengambil Sakramen Mahakudus dari tabernakel dan diletakkan di atas kain korporale. Sesudah mempersiapkan segala yang perlu untuk Komuni Kudus, para pemandu/pengantar bersama para pelayan dan umat beriman berlutut menyembah dalam keheningan sesaat. Sesudah itu
Pemimpin mengajak umat untuk menyanyikan lagu Bapa Kami sambil berdiri.
P : Saudara-saudari, meskipun kita tidak merayakan Ekaristi, pada perayaan ini kita memperoleh kesempatan menyambut Komuni Kudus, maka dalam persatuan dengan saudara-saudari separoki yang merayakan Ekaristi, marilah kita menyiapkan hati di hadirat Tuhan. [Hening sejenak]
18A. BAPA KAMI
Berdiri
P : Atas petunjuk Penyelamat kita dan menurut ajaran Ilahi, maka beranilah kita berdoa.
U : Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat.
Sesudah doa Bapa Kami, dapat juga diadakan Salam damai.
19A. SALAM DAMAI DAN KOMUNI
Bila ada Salam Damai, Pemimpin mengajak Umat, misalnya sebagai berikut:
P : Marilah kita saling memberikan salam damai.
Umat memberikan salam damai kepada saudara-saudari yang berada paling dekat. Sesudah Salam Damai, Pemimpin berlutut menghormati Sakramen Mahakudus, lalu menghunjukkan hosti kudus kepada umat, sambil berkata:
P : Inilah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.
Hosti dan sibori ditunjukkan kepada umat:
Berbahagialah kita yang diundang ke perjamuan-Nya.
Pemimpin dan Umat berdoa bersama-sama.
U : Ya Tuhan saya tidak pantas, Engkau datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh.
Dengan khidmat, Pemimpin menyambut Tubuh Tuhan terlebih dulu. Sesudah itu, ia melayani umat yang menyambut komuni, seraya setiap kali berkata:
P : Tubuh Kristus.
U : Amin.
Penyambutan komuni diiringi dengan nyanyian komuni.
17B. Cara B. TANPA KOMUNI
P : Pada perayaan ini kita tidak menyambut Komuni kudus. Meskipun demikian, marilah kita menghayati kehadiran Tuhan yang kita rindukan di dalam hati kita masing-masing.
18B. BAPA KAMI
Berdiri
P : Saudara-saudari terkasih, kita telah dipersatukan oleh iman yang sama. Maka sebagai Putra-Putri Bapa yang satu dan sama, marilah kita berdoa sebagaimana yang diajarkan oleh Putra-Nya sendiri.
U : Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat.
Dapat dilaksanakan Salam Damai.
P : Marilah kita saling memberikan salam damai. Umat memberikan salam damai kepada saudara-saudari yang berada paling dekat saja.
19B. DOA KOMUNI BATIN
Berlutut/berdiri
Pemimpin mengajak semua yang hadir untuk melaksanakan Komuni Batin dengan rumusan ajakan antara lain sebagai berikut:
P : Kini, mari kita siapkan hati kita untuk menyambut kedatangan Tuhan di dalam hati kita.
P : Yesus bersabda, “Kamu memang sudah bersih karena Firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.” (Yoh. 15:3-4). [hening sejenak]
P : Yesusku, aku percaya, Engkau sungguh hadir dalam Sakramen Mahakudus. Aku mengasihi-Mu lebih dari segalanya, dan aku merindukan kehadiran-Mu dalam seluruh jiwaku. Karena sekarang aku tak dapat menyambut-Mu dalam Sakramen Ekaristi, datanglah sekurang-kurangnya secara rohani ke dalam hatiku, meskipun Engkau selalu telah datang. Aku memeluk-Mu dan mempersatukan diriku sepenuhnya kepada-Mu, jangan biarkan aku terpisah daripada-Mu. Amin. [hening sejenak]
P : Dalam keheningan, marilah kita masing-masing menyatukan diri dengan Tuhan yang hadir saat ini di sini bersama kita.
Berbicaralah dengan Dia dari hati ke hati dengan mengatakan:
P : Yesus, datanglah, dan tinggallah dalam hatiku. Jadikanlah hatiku seperti hati-Mu.
U : Yesus, datanglah, dan tinggallah dalam hatiku. Jadikanlah hatiku seperti hati-Mu.
▪ Seruan di atas diulangi oleh Pemimpin dan diikuti oleh yang hadir sebanyak tiga kali.
▪ Lalu diberi saat hening secukupnya.
▪ Sesudah Komuni Batin, dapat dinyanyikan satu lagu Prapaskah.
20. MENDOAKAN MAZMUR 25:1-11
P : Marilah kita mendoakan bersama-sama Mazmur 25:1-11. Yang ada Alkitab, kita buka dan kita doakan bersama-sama.
Kepada-Mu, ya TUHAN, kuangkat jiwaku; Allahku, kepada-Mu aku percaya; janganlah kiranya aku mendapat malu; janganlah musuh-musuhku beria-ria atas aku. Ya, semua orang yang menantikan Engkau takkan mendapat malu; yang mendapat malu ialah mereka yang berbuat khianat dengan tidak ada alasannya.
Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku. Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari. Ingatlah segala rahmat-Mu dan kasih setia-Mu, ya TUHAN, sebab semuanya itu sudah ada sejak purbakala.
Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya TUHAN.
TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat. Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rend













