Polda Papua Barat Daya Perketat Pengamanan Pasca Penyerangan Terhadap Nakes dan Warga Sipil
Polda Papua Barat Daya menetapkan status siaga setelah terjadi insiden penyerangan terhadap tenaga kesehatan (nakes) dan warga sipil di Distrik Bamusbama, Kabupaten Tambrauw. Insiden ini terjadi pada Senin (16/3/2026) sekitar pukul 11.37 WIT, yang menimpa Yeremia Lobo (nakes) dan Yohanes Bido (warga sipil). Saat ini, pihak kepolisian sedang memperkuat pengamanan dengan mengerahkan personel tambahan dari Satbrimob.
Plt. Kabid Humas Polda Papua Barat Daya Kompol Jenny Setya Agustus Hengklar mengonfirmasi bahwa pihaknya melakukan perkuatan personel Brimob. Tim gabungan dari Dit Reskrimum, Brimob, dan Polres Tambrauw juga sedang melakukan pengejaran terhadap Orang Tak Dikenal (OTK) serta mendalami motif penyerangan tersebut.
Untuk menjamin keamanan warga, personel TNI-Polri telah ditempatkan di dua pos pengamanan di Distrik Bamusbama. Sistem buka-tutup jalur juga diberlakukan di sekitar Tempat Kejadian Perkara (TKP) dengan pengawalan ketat bagi kendaraan warga sipil. Proses penyelidikan dan penyidikan sedang berjalan. Identitas pelaku akan segera diumumkan setelah teridentifikasi.
Jenny menegaskan bahwa pelayanan publik bagi masyarakat tetap berjalan normal seperti biasa, meski pengamanan diperketat dan ada pergeseran personel ke Tambrauw. Korban atas nama Yohanes Bido telah dipulangkan ke Ende Nusa Tenggara Timur Rabu kemarin untuk dimakamkan sedangkan Yeremia dimakamkan di Sorong.
Kronologi Penyerangan Menurut Saksi Mata
Hamzah, seorang analis kesehatan RSUD Fef yang selamat dari insiden berdarah di Kampung Jokba, Kabupaten Tambrauw, membeberkan kronologi kejadian yang menewaskan dua orang pada 16 Maret 2026. Kesaksian ini disampaikan di hadapan Wakil Gubernur Papua Barat Daya di RSUD Sele Be Solu, Rabu (18/3/2026).
Hamzah menjelaskan bahwa peristiwa bermula saat ia dan tiga rekannya menempuh perjalanan menuju Kota Sorong menggunakan tiga sepeda motor. Sekitar pukul 12.00 WIT, saat mendekati lokasi kejadian, mereka dikejutkan oleh suara letusan senjata api dari jarak sekitar 30 meter. Suara tembakan itu membuat kami panik dan spontan memacu kendaraan lebih cepat.
Nahas, saat memasuki tikungan, mereka dihadang oleh sekelompok orang bersenjata tajam. Pelaku yang diperkirakan berjumlah lima orang tersebut membawa tombak serta parang dan langsung menyerang. Kondisi ini membuat rombongan hilang kendali. Korban Yeremia Lobo yang berada di posisi depan mengerem mendadak hingga terjatuh. Hamzah yang berada tepat di belakangnya tidak sempat menghindar dan menabrak motor Yeremia hingga ia ikut terpental.
Saya langsung bangkit dan lari menyelamatkan diri, diikuti rekan saya Robby namun, dua teman kami tidak sempat lolos,” tambahnya. Insiden tragis ini merenggut nyawa tenaga kesehatan Yeremia Lobo dan seorang warga sipil asal NTT bernama Edwin Bido.
Hamzah mengaku masih mengalami trauma mendalam dan belum siap kembali bertugas. Ia mendesak aparat penegak hukum segera menangkap para pelaku untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.













