Kisah Haru Pemudik Jalan Kaki di Tengah Kesulitan Ekonomi
Di tengah perayaan Lebaran 2026, banyak orang memilih mudik dengan berbagai cara. Namun, tidak semua orang memiliki kesempatan untuk melakukan perjalanan yang nyaman. Dua kisah menarik dari para pemudik jalan kaki muncul sebagai bukti ketangguhan dan keinginan kuat untuk pulang.
Asep Kumala Seta: Jalan Kaki dari Bandung ke Ciamis
Asep Kumala Seta (31), seorang pedagang cilok di Bandung, memutuskan untuk mudik jalan kaki ke Sindangkasih, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Alasannya adalah karena dagangannya sepi, sehingga ia tidak mampu membeli tiket bus. Ia hanya membawa sisa cilok dan sebotol sirup sebagai bekal.
Perjalanan dimulai dari kontrakan di kawasan Cibaduyut, Bandung. Meski uangnya terbatas, Asep tetap nekat. Ia mengambil tumpangan truk seadanya saat perjalanan terasa berat. Ia sempat tersesat, namun tetap berusaha mencapai tujuan.
Kisah ini menjadi simbol rindu akan keluarga dan harapan untuk kembali melaut di Indramayu. Asep menjelaskan bahwa dagangannya selama Lebaran tidak laku, sehingga uang untuk pulang tidak cukup. “Setoran biasanya tujuh ratus ribu, untungnya cuma tiga ratus. Tapi belakangan jarang habis. Kadang cuma dapat seratus ribu, disetor tujuh puluh ribu ke bos,” katanya.
Ia juga sempat duduk di kursi bus Damri hingga Bundaran Cibiru, namun akhirnya harus melanjutkan perjalanan dengan kaki sendiri. Saat lelah, ia beristirahat di emperan toko atau teras masjid. “Kadang ada yang nanya, tapi malah disangka yang bukan-bukan,” ujarnya.
Edi Rasidi: Mudik Sejauh 130 KM dengan Gerobak
Selain Asep, Edi Rasidi (50) juga melakukan mudik jalan kaki. Ia berasal dari Sampang, Cilacap, dan ingin pulang ke Pemalang, Jawa Tengah. Perjalanan sejauh 130 km dilakukan sambil mendorong gerobak dagangannya.
Alasan Edi melakukan ini adalah karena nazar setelah pernah mengalami kecelakaan yang membuat kakinya lumpuh. Setelah sembuh, ia berjanji untuk pulang kampung dengan berjalan kaki. Kini, ia membuktikan janjinya.
Edi memulai perjalanan pada Senin (16/3/2026) pagi dengan membawa uang sebesar Rp 40.000. Di gerobaknya, terdapat tulisan penuh makna dalam bahasa daerah yang menyemangati diri dan orang lain. Pesan tersebut menegaskan bahwa meski ekonomi sulit, rasa syukur dan niat untuk meminta maaf kepada orang tua tetap menjadi prioritas utama.
Perjalanan yang biasanya hanya memakan waktu 3 jam dengan motor, diperkirakan akan memakan waktu 4 hari 4 malam. Edi menargetkan sampai di rumah pada Kamis (20/3/2026) malam demi bertemu istri, anak, dan kedua orang tuanya.
Tantangan terberatnya adalah jalur Purbalingga yang penuh tanjakan. Ia menghadapi enam tanjakan ekstrem, terutama di Bayeman dan Karangreja. Meski harus mendorong gerobak kayu yang berat, Edi tetap menjalankan ibadah puasa dan hanya menggunakan sandal jepit.
Keberhasilan dan Dukungan dari Warga
Selama perjalanan, Edi aktif melakukan siaran langsung (live) di media sosial berkat bantuan kuota dari teman-temannya. Ia mengaku bersyukur karena banyak warga yang memberikan dukungan moral maupun logistik di sepanjang jalur utama yang ia lalui.
Kedua kisah ini menjadi contoh betapa besarnya tekad dan kekuatan hati para pemudik. Mereka tidak hanya ingin pulang, tetapi juga membawa semangat dan harapan baru untuk masa depan.













