Kisah Nuryani, Ibu Tunggal yang Berjuang Menghidupi 8 Anak di Bandung
Nuryani adalah seorang ibu tunggal di Bandung yang terus berjuang untuk menghidupi delapan orang anaknya. Dengan kondisi ekonomi yang sangat sulit, ia bekerja sebagai buruh cuci dan pengumpul rongsokan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Meski begitu, penghasilannya jauh dari cukup untuk memberikan kehidupan yang layak bagi anak-anaknya.
Kisah pilu Nuryani akhir-akhir ini viral di media sosial setelah dibagikan oleh konten kreator Abi Fatimah. Kehidupan Nuryani yang serba kekurangan membuat banyak orang prihatin hingga akhirnya terkumpul donasi puluhan juta rupiah. Donasi tersebut datang dalam dua tahap, yaitu Rp 13 juta dan Rp 15.234.442, sehingga total donasi yang diterima Nuryani mencapai lebih dari Rp 28 juta.
Perjalanan Hidup Nuryani
Nuryani tinggal di kontrakan sempit di kawasan Ujung Berung, Kota Bandung bersama delapan anaknya. Sebelum menetap di Bandung, ia merupakan warga asal Tasikmalaya, Jawa Barat. Nuryani memiliki sembilan orang anak, namun hanya delapan yang tinggal bersamanya di Bandung. Satu anak lainnya yang paling besar berusia 19 tahun tinggal di kampung halamannya.
Dalam wawancara dengan wartawan, Nuryani mengungkapkan bahwa anak-anaknya enggan tinggal bersama ayah mereka karena takut akan mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Hal itu membuatnya harus banting tulang sendirian untuk mencari nafkah. Selama 38 tahun, Nuryani hanya berkutat dengan perjuangan bertahan hidup.
Kondisi Ekonomi yang Sulit
Penghasilan dari pekerjaannya sebagai buruh cuci dan pengumpul rongsokan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Nuryani bahkan terhimpit ekonomi karena harus membayar kontrakan dan memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Dalam kondisi yang sangat sulit, ia dan anak-anaknya sering mengonsumsi nasi dicampur penyedap rasa demi bertahan hidup.
Nuryani juga mengaku sering mengalami pergolakan batin, terutama saat anak-anaknya sakit. Jika ia berhenti bekerja untuk merawat mereka, maka tidak ada uang untuk makan hari itu. Namun, selama bulan Ramadhan, Nuryani selalu bersyukur karena mendapatkan banyak makanan dari masjid setempat yang menyediakan takjil gratis.
Harapan untuk Masa Depan
Meski hidup dalam kesulitan, Nuryani tetap memiliki harapan untuk masa depan. Anak-anaknya ingin bersekolah dan memakai seragam sekolah, yang bagi mereka adalah kemewahan dan cita-cita. Beruntung, bantuan dari lembaga seperti Masjid Makan-Makan membantu penebusan ijazah dan fasilitas sekolah paket.
Nuryani juga berharap bisa mandiri dengan membuka usaha kecil-kecilan berjualan sistik. Ia ingin membuktikan bahwa meski pernah berada di titik terendah hingga makan nasi penyedap rasa, ia mampu membesarkan anak-anaknya dengan layak.
Jawaban atas Pertanyaan tentang Jumlah Anak
Terkait jumlah anak yang banyak, Nuryani mengaku sudah berusaha menjalani KB. Namun, ia menjelaskan bahwa kondisi fisiknya yang sering sakit-sakitan, termasuk vertigo, membuatnya kesulitan menjalani program KB secara konsisten di masa lalu. Kini, demi memutus rantai kesulitan dan fokus merawat anak bungsu yang masih berusia satu tahun, Nuryani telah mengambil langkah besar dengan menjalani prosedur sterilisasi melalui bantuan kader lingkungan setempat.













