Khataman Al-Qu’ran Braille oleh Siswa Tunanetra di Bandung Raya
Ratusan siswa tunanetra dari berbagai Sekolah Luar Biasa (SLB) di Bandung Raya berhasil menyelesaikan khataman Al-Qur’an menggunakan huruf Braille dalam sebuah kegiatan yang diselenggarakan di Masjid Ibnu Umi Maktum, SLB Negeri A Pajajaran Kota Bandung, Jawa Barat. Kegiatan ini menjadi momen penting yang menunjukkan dedikasi dan semangat para siswa dalam mempelajari Al-Qur’an meskipun memiliki keterbatasan penglihatan.
Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 300 siswa SLB, 200 guru Pendidikan Agama Islam (PAI), serta 200 anggota Persatuan Tunanetra Indonesia (PERTUNI) Kota Bandung. Para peserta hadir untuk bersama-sama merayakan pencapaian luar biasa yang diraih oleh siswa-siswi tunanetra dalam membaca dan mengkhatamkan kitab suci Al-Qur’an dengan menggunakan huruf Braille.
Direktur Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama, M Munir, menyampaikan bahwa siswa-siswi SLB adalah anak-anak yang diberi keistimewaan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, mereka membutuhkan perhatian khusus dan dukungan yang maksimal dari guru dan pembina.
Menurutnya, para guru PAI di SLB juga memiliki peran penting dalam mendidik siswa-siswi. Banyak dari mereka bahkan merupakan penyandang disabilitas. Mereka dinilai istimewa karena memiliki kesabaran, kekuatan, dan kapabilitas ekstra dalam mendampingi dan mendidik siswa-siswi SLB.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Amien Suyitno, turut memberikan apresiasi terhadap para siswa tunanetra, guru, dan pembina dari PERTUNI yang telah membimbing siswa hingga mampu membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an Braille. Ia menilai bahwa membaca Al-Qur’an dengan huruf Braille bukanlah hal yang mudah. Bahkan bagi orang yang dapat melihat, membaca Al-Qur’an dengan baik tetap membutuhkan latihan dan ketekunan.
“Sebagaimana arahan Bapak Menteri, tidak boleh ada perbedaan layanan pendidikan antara anak berkebutuhan khusus dan anak pada umumnya. Seluruh anak Indonesia harus mendapatkan layanan pendidikan yang setara,” ujarnya.
Sementara itu, Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama Helmy Halimatul Udhma menjelaskan bahwa khataman Al-Qur’an oleh siswa tunanetra bukan sekadar kegiatan seremonial. Menurutnya, ini bukan hanya capaian spiritual, tetapi juga bukti bahwa cahaya Al-Qur’an dapat diakses oleh siapa pun tanpa batas.
“Inklusi bukan sekadar konsep, melainkan komitmen nyata agar setiap anak bangsa memiliki kesempatan yang sama dalam pendidikan dan pengembangan diri,” ujarnya.
Selain itu, Kementerian Agama juga terus mengembangkan berbagai program untuk mendukung pendidikan siswa tunanetra. Beberapa di antaranya adalah penguatan kompetensi guru PAI di SLB, penyediaan Al-Qur’an Braille, pengembangan media pembelajaran audio dan digital, serta pelatihan bagi penyuluh agama agar mampu memberikan layanan keagamaan yang ramah disabilitas.
Program-program ini bertujuan untuk memastikan bahwa semua siswa, termasuk yang memiliki keterbatasan, memiliki akses yang sama terhadap pendidikan dan pengembangan diri. Dengan demikian, keberhasilan siswa tunanetra dalam mengkhatamkan Al-Qur’an Braille menjadi simbol dari komitmen yang kuat dalam menciptakan pendidikan inklusif dan merata di seluruh Indonesia.













