Ramadhan: Bulan Latihan Menjaga Lisan dan Perilaku
Ramadhan hadir setiap tahun, membawa berbagai amalan yang harus dijaga. Di antaranya adalah lisan dan perilaku. Namun, banyak Muslim yang sudah bertahun-tahun berpuasa masih belum terpelihara ucapan dan perbuatan mereka. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Tulisan ini mencoba mengulas beberapa aspek penting dalam menjaga lisan dan perilaku selama bulan Ramadhan. Pertama, benarkah Ramadhan sebagai bulan latihan menjaga lisan? Lisan merupakan alat komunikasi manusia yang sangat penting. Karena manusia termasuk makhluk berbicara, maka diberikan pilihan untuk diam atau berbicara.
Banyak umat Islam sering kali lupa dengan pepatah “mulutmu adalah harimaumu”. Ini mengandung pesan bahwa umat Islam harus hati-hati dalam berbicara agar tidak menyakiti orang lain. Jika hati sudah tertusuk, maka kebaikan bisa menjadi busuk.
Di era modern, banyak umat Islam yang bicara tanpa kontrol, bahkan menyebarkan hoaks di media sosial. Mereka seolah-olah merasa tidak ada malaikat yang mengawasi di bulan Ramadhan. Padahal, hoaks dan berbohong dilarang keras dalam bulan Ramadhan karena dapat meruntuhkan nilai puasa.
Jika seseorang dipermalukan atau dicela oleh orang lain, ia diperintahkan untuk mengucapkan “Sesungguhnya saya sedang berpuasa” (H.R. Muslim). Kata-kata ini sangat indah dan bisa membuat lawan bicara tersadarkan.
Akibat negatif dari tidak menjaga lisan adalah bahwa “…tidak ada hajat bagi Allah untuk menilai puasanya, meskipun ia tidak makan dan minum di siang hari,” (HR. Bukhari). Artinya, Tuhan sangat marah kepada orang yang tidak mampu merawat lisan secara baik di bulan Ramadhan, karena “Salamatul insan fi hifdhil lisan” artinya: Keselamatan manusia bergantung pada lisannya (HR. Bukhari).
Bahkan membicarakan aib orang lain, adu domba, dusta, melihat dengan syahwat, sumpah palsu dapat membatalkan pahala puasa (HR. Ad-Darimi). Menurut Imam Nawawi, bukan batal puasanya, tetapi hanya membatalkan pahalanya (Majmu’, Syarah Muhadzzab, Juz VI, h. 356).
Terjaga lisan erat kaitannya dengan puasa tingkat “khawas”. Karena pada tingkat “khawasul khawas” sangat sulit diterapkan. Dipastikan lisan tidak akan terjaga dengan baik jika umat Islam mengambil contoh puasa “awam”. Melabelkan Ramadhan sebagai bulan menjaga lisan adalah sangat tepat, bahkan semua ulama setuju.
Menjaga Perilaku di Bulan Ramadhan
Kedua, menjaga perilaku di bulan Ramadhan. Perilaku merupakan serangkaian tindakan atau aktivitas manusia yang memiliki cakupan sangat luas (KBBI). Hati-hatilah bertindak di bulan Ramadhan agar puasa selamat.
Tindakan harus dikendalikan, misalnya meningkatkan empati sosial (bersedekah), membantu sesama, menjaga hubungan baik dengan keluarga, jiran, dan teman baik di ruang publik atau privat. Meningkatkan ibadah juga penting, seperti perhatian serius pada shalat wajib tepat waktu, memperbanyak shalat sunat sebelum dan sesudah fardhu, tarawih, witir, dhuha, dan shalat tahajjud, qiraatul quran dan zikir, serta selawat kepada Rasulullah.
Semua amalan tersebut berimbas pada tazkiyatul qalbun (pembersihan hati). Kalau hati sudah bersih, lisan akan fasih. Ampunan Tuhan diperoleh, amal pasti shaleh.
Ramadhan sebagai “The Striking Force”
Ramadhan sebagai “The Striking Force” sebagai daya dobrak yang membuat lisan dan perilaku terjaga. Menjaga lisan adalah “upaya meningkatkan (upgradediri) yang tuntas di bulan Ramadhan (Cak Nur). Puasa sebagai sarana pembentukan karakter yang santun dan bijaksana.
Jadi bukan hanya sekedar “pindah jam makan”, lanjut Cak Nur. Akan tetapi puasa menjadi latihan integritas yang paling murni, karena hanya individu dan Tuhan yang tahu apakah seseorang benar-benar berpuasa atau tidak, dan puasa, kata Cak Nur, adalah ibadah yang paling antisantun.












