Puncak Arus Balik Lebaran 2026 Diprediksi Terjadi Akhir Maret
Puncak arus balik Lebaran 2026 di lintasan penyeberangan Jawa–Bali diprediksi akan terjadi pada tanggal 26 hingga 30 Maret. Untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan dan penumpang di Pelabuhan Ketapang, PT ASDP Indonesia Ferry telah menyiapkan beberapa strategi agar kemacetan seperti saat arus mudik di Gilimanuk tidak terulang.
Strategi ASDP untuk Mengatasi Lonjakan Penumpang
ASDP meminta para pengusaha logistik untuk mematuhi aturan surat keputusan bersama (SKB) yang melarang kendaraan besar sumbu tiga ke atas berlalu lintas di jalan raya selama angkutan Lebaran. Wakil Direktur Utama ASDP Yossianis Marciano menyampaikan bahwa pihaknya sangat berharap dukungan dari para pengusaha truk dan asosiasi terkait agar layanan arus mudik dapat berjalan lancar dan semakin baik.
“Kami memohon kepada para pengusaha logistik dan pengusaha truk agar bersama-sama mematuhi SKB pengaturan lalu lintas, sehingga layanan arus mudik pada periode hingga H+10 dapat berjalan lancar dan semakin baik,” ujarnya.
Pembatasan Truk untuk Cegah Kemacetan
Berjalannya kendaraan besar saat arus mudik turut berkontribusi terhadap kemacatan di Pelabuhan Gilimanuk beberapa hari lalu. Harapannya, kondisi tersebut tak terulang. ASDP akan meningkatkan koordinasi dan komunikasi dengan para pengusaha truk serta asosiasi terkait.
“Ke depan, koordinasi dan komunikasi dengan para pengusaha truk serta asosiasi terkait akan terus kami tingkatkan. Kami sangat mengharapkan dukungan agar pelayanan kepada masyarakat dapat terus dijaga dan ditingkatkan,” tambahnya.
Penyediaan Kapal Berkapasitas Besar
Dari sisi layanan pelabuhan dan kapal, ASDP akan menjalankan beberapa peningkatan. Kapal-kapal ukuran besar masih akan dioperasikan selama arus balik, sebagai langkah antisipasi jangka pendek. Sementara untuk penataan jangka panjang, pihaknya akan menata ulang dan membangun fasilitas tambahan di area pelabuhan.
“Sebagai operator, kami juga akan menyiapkan kapal berukuran lebih besar di lintasan Ketapang–Gilimanuk. Ke depan, minimal kapal yang dioperasikan memiliki kapasitas sekitar 2.000 penumpang. Kami juga mengajak operator kapal lainnya untuk secara bertahap mengganti armada dengan ukuran yang lebih besar, karena kapal yang ada saat ini relatif kecil sehingga daya angkutnya belum maksimal,” jelas dia.
Evaluasi Kemacetan di Pelabuhan Gilimanuk
Ia menyebut, kemacetan di Pelabuhan Gilimanuk berhasil diatasi Rabu (18/3/2026) sekitar pukul 16.30 WIB. Pada saat itu, kendaraan yang sebelumnya berada di jalan telah diarahkan masuk ke buffer zone. Secara bertahap, kendaraan kemudian diarahkan dari terminal menuju pelabuhan.
“Berbagai langkah operasional juga telah kami lakukan bersama Kementerian Perhubungan, kepolisian, dan stakeholders lainnya. Salah satunya adalah penambahan jumlah kapal. Selain kapal yang sudah beroperasi di lintasan Ketapang–Gilimanuk, kami juga mendatangkan kapal milik ASDP dari lintasan Padangbai–Lembar,” tambahnya.
Optimalkan Pola Operasi TBB di Enam Dermaga
ASDP juga mengoptimalkan pola operasi tiba-bongkar-berangkat (TBB) di enam dermaga. Saat berkunjung ke Pelabuhan Ketapang, Rabu (18/3/2026) siang, Kapolda Jatim Irjen Pol Nanang Avianto mengatakan, kemacetan di Pelabuhan Gilimanuk saat arus mudik akan menjadi evaluasi untuk arus balik yang akan berlangsung di Pelabuhan Ketapang.
“Ini menjadi bahan evaluasi dan antisipasi pengamanan bagi kami saat arus balik,” ujar Kapolda.
Pihaknya meyakini, data jumlah orang yang akan balik ke Bali saat arus balik bakal sama dengan jumlah mereka yang mudik. Bahkan, jumlahnya bisa bertambah.











