Profil Andrie Yunus, Aktivis HAM KontraS yang Diserang Air Keras
Andrie Yunus adalah seorang aktivis hak asasi manusia (HAM) yang saat ini menjabat sebagai Wakil Koordinator Bidang Eksternal Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS). Ia dikenal sebagai sosok yang gigih dalam menyuarakan isu-isu seperti pelanggaran HAM, reformasi sektor keamanan, serta advokasi terhadap korban kekerasan negara. Namun, kiprahnya dalam dunia aktivisme tidak selalu mulus. Pada suatu hari, ia menjadi korban serangan air keras setelah mengikuti sebuah podcast tentang remiliterisasi.
Peristiwa tersebut terjadi di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, pada pukul 23.37 WIB. Saat itu, Andrie sedang dalam perjalanan pulang menggunakan sepeda motor. Ia disiram air keras oleh orang tak dikenal, yang menyebabkan luka serius di bagian tangan kanan dan kiri, wajah, dada, serta mata. Akibat insiden ini, Andrie harus menjalani perawatan medis intensif.
Menurut informasi dari Koordinator Badan Pekerja KontraS, Dimas Bagus Arya, sebelum kejadian, Andrie baru saja menjadi narasumber dalam sebuah podcast yang digelar oleh Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Topik yang dibahas dalam podcast tersebut adalah “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia”.

Latar Belakang dan Perjalanan Karier Andrie Yunus
Sebelum bergabung dengan KontraS pada tahun 2022, Andrie telah memiliki pengalaman kerja yang cukup panjang dalam bidang hukum. Ia bekerja di Lembaga Bantuan Hukum Jakarta dari tahun 2019 hingga 2022 sebagai advokat yang fokus pada advokasi hukum publik. Di sana, ia sering kali melakukan pendampingan kasus yang berkaitan dengan kebebasan sipil dan perlindungan hak masyarakat.
Dalam hal pendidikan, Andrie merupakan alumni Sekolah Tinggi Hukum (STH) Indonesia Jentera dan penerima Beasiswa Jentera. Ia lulus pada tahun 2020 dengan skripsi yang menyoroti peran paralegal dalam mewujudkan persamaan di hadapan hukum.
Selama beraktivitas di KontraS, Andrie dikenal sebagai salah satu aktivis yang aktif mengkritisi kebijakan negara, terutama dalam sektor keamanan. Ia beberapa kali terlibat dalam advokasi dan kampanye publik terkait isu reformasi sektor keamanan, termasuk kritik terhadap wacana revisi Undang-Undang TNI yang dinilai berpotensi memperluas peran militer di ranah sipil.
Pada tahun 2025, Andrie juga sempat menjadi sorotan publik setelah bersama sejumlah aktivis masyarakat sipil mendatangi rapat pembahasan revisi UU TNI yang berlangsung tertutup di sebuah hotel di Jakarta. Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes terhadap proses legislasi yang dinilai tidak transparan. Selain itu, ia juga pernah hadir sebagai saksi dalam persidangan uji formal Undang-Undang TNI di Mahkamah Konstitusi untuk memberikan keterangan dari perspektif masyarakat sipil.
Pernah Mengalami Teror Sebelumnya
Sebelum mengalami serangan air keras, Andrie ternyata pernah mengalami teror. Menurut informasi yang diberikan oleh Dimas Bagus Arya, teror tersebut terjadi usai Andrie terlibat dalam aksi protes terhadap pembahasan revisi Undang-Undang TNI.
Salah satu kejadian teror terjadi pada dini hari 16 Maret 2025 ketika tiga orang tak dikenal mendatangi kantor KontraS dan mengaku sebagai wartawan. Namun, ketiga orang tersebut tidak menjelaskan berasal dari media mana maupun tujuan kedatangan mereka. Pada waktu yang hampir bersamaan, Andrie juga menerima beberapa panggilan telepon dari nomor yang tidak dikenal. Ia menduga rangkaian kejadian tersebut merupakan bentuk intimidasi terhadap dirinya dan organisasi yang aktif mengkritisi kebijakan negara.
Sementara itu, aparat kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku serta motif di balik serangan terhadap aktivis HAM tersebut.













