Langkah Antisipatif Pemerangkapan BBM dalam Menghadapi Ketegangan Geopolitik
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, memberikan instruksi kepada para menteri untuk mengevaluasi skenario kerja dari rumah (work from home/WFH) dan pengurangan hari kerja sebagai langkah antisipatif menghadapi potensi lonjakan harga minyak. Instruksi ini dikeluarkan setelah situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah memicu ketegangan yang berdampak pada stabilitas ekonomi global.
Ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat menjadi perhatian serius pemerintah, karena dapat menyebabkan kenaikan harga minyak secara drastis. Harga minyak global sempat melonjak hingga sekitar 115 dolar AS per barel, jauh di atas asumsi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia yang hanya sekitar 70 dolar AS per barel. Hal ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas fiskal negara.
Menyiapkan Strategi Antisipatif
Prabowo menekankan bahwa pemerintah tidak boleh merasa aman tanpa mempersiapkan strategi menghadapi kemungkinan terburuk. Ia meminta jajaran pemerintahannya untuk melakukan langkah-langkah proaktif guna mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri.
“Kita bersyukur kita aman, tetapi kita juga harus tetap berupaya mengurangi konsumsi BBM kita,” ujar Prabowo saat memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3/2026).
Langkah tersebut bertujuan untuk mengurangi dampak tekanan ekonomi yang bisa muncul akibat kenaikan harga energi. Dengan mengurangi mobilitas dan mengoptimalkan sistem kerja jarak jauh, pemerintah berharap dapat menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Belajar dari Pengalaman Pakistan
Dalam arahannya, Presiden Prabowo menyebutkan kebijakan penghematan yang diterapkan oleh pemerintah Pakistan dalam menghadapi tekanan ekonomi. Beberapa langkah yang diambil oleh Pakistan antara lain pemotongan gaji pejabat negara, pembatasan penggunaan kendaraan dinas, pengurangan konsumsi BBM, serta penerapan kerja dari rumah dan pengurangan hari kerja.
Pemerintah Indonesia menilai kebijakan-kebijakan ini sebagai contoh bagaimana pemerintah dapat mengambil langkah cepat untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global. Prabowo menilai bahwa langkah-langkah seperti ini sangat relevan untuk diterapkan di Indonesia.
Pengalaman Saat Pandemi
Prabowo juga mengingatkan bahwa Indonesia pernah berhasil menerapkan sistem kerja jarak jauh selama pandemi COVID-19. Sistem tersebut membantu menjaga produktivitas sekaligus mengurangi mobilitas masyarakat. Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa WFH dapat menjadi solusi efektif dalam kondisi darurat.
“Dulu kita atasi COVID, dan kita berhasil. Kita mampu banyak bekerja dari rumah dengan efisien. Artinya, kita menghemat BBM dalam jumlah yang sangat besar,” ucap presiden.
Memperkuat Kesiapsiagaan Pemerintah
Meski situasi nasional saat ini masih relatif stabil, Prabowo menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh lengah. Semua kemungkinan, termasuk skenario terburuk, harus dipersiapkan sejak dini.
“Kita tidak panik, tetapi kita juga tidak boleh terlalu lengah,” tegasnya. Pernyataan ini mencerminkan pendekatan pemerintah yang ingin tetap tenang namun siap menghadapi potensi krisis global.
Dampak Lonjakan Harga Minyak
Lonjakan harga minyak dunia berpotensi memberikan tekanan besar terhadap keuangan negara. Harga minyak mentah jenis WTI saat ini berada di sekitar 98,71 dolar AS per barel, jauh di atas asumsi dalam APBN. Jika harga minyak terus berada jauh di atas asumsi tersebut, maka belanja negara berpotensi membengkak, terutama untuk sektor energi dan subsidi.
Mempertimbangkan Strategi Penghematan
Untuk menghadapi hal ini, pemerintah mulai mempertimbangkan langkah penghematan seperti pengurangan mobilitas kerja dan penerapan WFH. Langkah-langkah ini diharapkan dapat menekan konsumsi BBM sekaligus menjaga stabilitas fiskal nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global.











