JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menghadapi risiko pelemahan yang signifikan. Prediksi menunjukkan bahwa rupiah bisa melemah hingga menembus level Rp17.200 per dolar AS. Perkiraan ini muncul menjelang periode libur panjang Idulfitri 2026, yang dianggap sebagai momen kritis bagi stabilitas nilai tukar.
Berdasarkan data dari sumber internal, nilai tukar rupiah ditutup pada posisi melemah sebesar 65 poin atau 0,38% ke level Rp16.958 per dolar AS pada Jumat (13/3/2026). Sementara itu, indeks dolar AS mencatat peningkatan sebesar 0,62% menjadi 100,36. Kondisi ini menunjukkan tekanan terhadap rupiah yang semakin besar.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa selain faktor musiman libur panjang, tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga berasal dari kondisi fiskal domestik. Defisit anggaran yang diperkirakan akan membesar menjadi salah satu isu utama yang diwaspadai pasar.
“Pelemahan rupiah disebabkan oleh defisit anggaran yang kemungkinan besar akan lebih dari 3%. Bahkan, Menko Perekonomian menyebutkan bahwa angka tersebut bisa mencapai lebih dari 4%,” ujarnya kepada awak media, Minggu (15/3/2026).
Ibrahim menambahkan bahwa fluktuasi nilai tukar sering kali meningkat tajam saat pasar domestik tutup selama libur Idulfitri. Risiko ini semakin diperparah oleh ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz. Ketegangan tersebut berdampak pada kenaikan harga minyak mentah yang berpotensi memicu inflasi global.
Kondisi ini membuat Bank Sentral AS, The Fed, diprediksi akan tetap mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama. Hal ini berdampak pada penguatan indeks dolar ke level US$102.
“Ada kemungkinan besar saat libur Idulfitri terjadi eskalasi di Timur Tengah. Ini yang harus diantisipasi, sehingga pelemahan rupiah kemungkinan bisa mencapai level Rp17.150 hingga Rp17.200,” tambah Ibrahim.
Meskipun Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan masuk ke pasar untuk melakukan stabilisasi, Ibrahim menilai intervensi tersebut mungkin tidak cukup kuat untuk menahan arus volatilitas di tengah pasar yang sepi selama libur. Dalam situasi seperti ini, pasokan valuta asing dan permintaan domestik cenderung tidak seimbang.
Selain rupiah, lonjakan harga minyak mentah dunia yang diekspektasikan mencapai US$120 per barel turut menjadi beban tambahan bagi neraca perdagangan dan stabilitas moneter nasional. Harga minyak yang naik memengaruhi biaya impor dan inflasi, yang berdampak langsung pada nilai tukar rupiah.
“Rupiah kemungkinan akan tembus di atas level Rp17.000 seiring dengan penguatan indeks dolar dan fluktuasi harga komoditas energi dunia yang sangat dinamis dalam beberapa pekan ke depan,” pungkasnya.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.









