Lonjakan Permintaan Ayam Kampung Jelang Lebaran di Kabupaten Tangerang
Menjelang Hari Raya Idulfitri, permintaan ayam kampung di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Tangerang mengalami peningkatan yang signifikan. Para pedagang mengaku bahwa penjualan ayam kampung meningkat drastis dibandingkan hari biasa, bahkan mencapai hingga lima kali lipat.
Arman, seorang pedagang ayam kampung di Pasar Kemis, mengatakan bahwa dalam sehari penjualannya bisa mencapai lebih dari 70 ekor ayam. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan hari biasa yang hanya sekitar 10 hingga belasan ekor per hari.
“Hari ini lumayan banget, hampir empat kali lipat. Biasanya paling 10 sampai belasan ekor, tapi sekarang sudah lebih dari 70 ekor yang terjual,” ujar Arman kepada , Kamis (19/3/2026).
Untuk memenuhi tingginya permintaan, Arman menyiapkan stok hingga 200 ekor ayam kampung. Harga yang ditawarkan pun bervariasi, mulai dari Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per ekor, tergantung ukuran ayam.
“Tadi stok 70 ekor, tapi takut kurang saya nurunin barang lagi jadi total semuanya 200 untuk hari ini,” ucapnya.
Lonjakan permintaan ini mulai terasa sejak pagi hari. Menurut Arman, meningkatnya pembelian dipicu oleh masyarakat yang bersiap menyambut Lebaran. Terlebih menjelang penetapan hari raya melalui sidang isbat.
“Sejak pagi tadi sudah ramai, mungkin karena masyarakat berjaga-jaga, siapa tahu besok sudah Lebaran,” tambahnya.
Hal serupa juga dirasakan oleh pedagang lain di wilayah Rajeg, Kabupaten Tangerang. Salah satu pedagang, Joko, mengaku bahwa stok ayam kampung miliknya telah habis diserbu pembeli.
“Tadi ada sekitar 50 ekor, tapi sudah habis. Ini baru mau ambil lagi,” kata Joko.
Ia menyebut bahwa dibandingkan hari biasa, permintaan ayam kampung meningkat tajam. Jika biasanya pembeli lebih banyak mencari ayam negeri, kini ayam kampung justru menjadi primadona.
“Kalau biasanya ayam kampung jarang dicari, sekarang bisa sampai lima kali lipat lebih peningkatannya,” ujarnya.
Di sisi lain, tingginya minat masyarakat terhadap ayam kampung juga dipengaruhi oleh faktor cita rasa dan tradisi. Hal itu diungkapkan oleh seorang pembeli, Rosnani (53), yang menyatakan bahwa ia lebih memilih ayam kampung untuk hidangan Lebaran meski harganya lebih mahal.
“Kalau ayam negeri itu dagingnya terlalu empuk, sedangkan ayam kampung teksturnya lebih pas, enak untuk dibuat opor,” ungkapnya.
Menurutnya, ayam kampung sudah menjadi bagian dari hidangan khas Lebaran di keluarganya, sehingga selalu dihadirkan setiap tahun.
“Lebaran kan setahun sekali, jadi ingin yang spesial. Selain daging sapi, ayam kampung wajib ada di rumah kami,” tutur Rosnani.
Faktor Pendorong Minat Masyarakat terhadap Ayam Kampung
Beberapa faktor utama yang memengaruhi meningkatnya permintaan ayam kampung adalah:
- Cita rasa yang khas: Ayam kampung memiliki tekstur daging yang lebih padat dan lezat dibandingkan ayam negeri, sehingga cocok untuk hidangan khas Lebaran seperti opor.
- Tradisi keluarga: Banyak keluarga yang memiliki kebiasaan menyajikan ayam kampung sebagai bagian dari hidangan Lebaran, menjadikannya sebagai simbol kebersamaan dan kekayaan budaya.
- Keinginan untuk merayakan dengan spesial: Karena Lebaran hanya terjadi setahun sekali, masyarakat cenderung ingin merayakannya dengan makanan yang istimewa dan bernilai sentimental.
Peran Pedagang dalam Memenuhi Permintaan
Pedagang ayam kampung di Kabupaten Tangerang terlihat sangat aktif dalam memenuhi permintaan masyarakat jelang Lebaran. Mereka tidak hanya meningkatkan stok, tetapi juga menyesuaikan harga sesuai dengan permintaan pasar.
Beberapa langkah yang dilakukan oleh para pedagang antara lain:
- Meningkatkan jumlah stok: Seperti yang dilakukan oleh Arman, yang menyiapkan stok hingga 200 ekor ayam kampung untuk memenuhi permintaan.
- Menyesuaikan harga: Harga ayam kampung bervariasi, mulai dari Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per ekor, tergantung ukuran dan kualitas ayam.
- Mempercepat pengadaan: Pedagang seperti Joko terlihat aktif mengambil stok tambahan untuk memenuhi permintaan yang tinggi.
Kesimpulan
Permintaan ayam kampung di Kabupaten Tangerang mengalami lonjakan yang signifikan menjelang Hari Raya Idulfitri. Hal ini dipengaruhi oleh faktor cita rasa, tradisi, dan keinginan masyarakat untuk merayakan Lebaran dengan makanan yang istimewa. Pedagang pun turut berkontribusi dengan meningkatkan stok dan menyesuaikan harga agar dapat memenuhi permintaan pasar.













