Pawai Ogoh-Ogoh di Tengah Ramadan, Simbol Harmoni Beragama di NTB
Pawai Ogoh-Ogoh yang digelar oleh umat Hindu di Nusa Tenggara Barat (NTB) tetap berlangsung dengan penuh kehormatan dan kesan yang mendalam, meskipun berada di tengah bulan suci Ramadan. Acara ini menjadi bukti nyata dari harmoni antarumat beragama yang terjalin kuat di wilayah tersebut.
Kota Mataram, sebagai pusat kehidupan budaya dan agama, menjadi saksi utama dari semangat toleransi dan keragaman yang kental. Ribuan umat Hindu Dharma menunjukkan kreativitas mereka dalam mempersiapkan pawai yang spektakuler, menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948. Tahun ini, perayaan Nyepi jatuh pada waktu yang hampir bersamaan dengan Idul Fitri, menjadikan momen ini sangat istimewa.
Momentum Khusus bagi Masyarakat NTB
Momen tahun ini dinilai sangat penting karena dua hari besar keagamaan, yaitu Nyepi untuk umat Hindu dan Idul Fitri untuk umat Islam, jatuh dalam waktu yang hampir bersamaan. Hal ini mencerminkan kekayaan budaya dan agama yang dimiliki masyarakat NTB. Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, mengungkapkan bahwa sekitar 99 persen penduduk provinsi ini sedang menjalani proses pensucian diri secara bersamaan.
“Sebagian besar masyarakat NTB adalah Muslim, sedangkan sebagian kecilnya adalah Hindu. Artinya, hampir 99 persen penduduk kita sedang melalui proses pensucian bersamaan. Ini menjadi tanda baik bahwa kedamaian, kenyamanan, dan ketertiban akan selalu menyertai kita,” ujar Iqbal.
Kekaguman atas Karya Seni Umat Hindu
Gubernur Iqbal juga menyampaikan kekagumannya atas keseriusan umat Hindu dalam mempersiapkan karya seni tingkat tinggi yang ditampilkan dalam pawai. Ia menegaskan bahwa tidak ada satu pun Ogoh-Ogoh yang tampak ‘ecek-ecek’, semua disiapkan dengan penuh kesungguhan dan kehati-hatian.
“Kami berdua bersama Walikota Mataram merasakan kekaguman bagaimana umat Hindu Dharma mengekspresikan rasa seninya dan kesungguhannya. Tidak ada satu pun Ogoh-Ogoh yang tampak ‘ecek-ecek’, semuanya dipersiapkan dengan baik,” katanya.
Perhelatan Sebagai Bukti Toleransi yang Kuat
Perhelatan ini juga menjadi bukti nyata kepada dunia internasional bahwa masyarakat NTB telah dewasa dalam beragama dan memiliki akar toleransi yang kuat. Semangat harmoni dan saling menghormati ini telah dijaga selama ratusan tahun, sehingga menjadi contoh yang baik bagi daerah lain.
Acara yang berlangsung tertib ini diharapkan menjadi standar baru bagi penyelenggaraan di tahun-tahun mendatang. Dengan demikian, NTB akan semakin dikenal sebagai provinsi yang harmonis dalam keberagaman, serta mampu menjaga nilai-nilai kebersamaan dan kebhinekaan.
Keberagaman sebagai Kekuatan
Keberagaman agama dan budaya di NTB tidak hanya menjadi identitas, tetapi juga menjadi kekuatan yang memperkaya kehidupan sosial masyarakat. Dalam acara seperti Pawai Ogoh-Ogoh, masyarakat bisa saling belajar dan memahami satu sama lain, sehingga memperkuat ikatan persaudaraan.
Dengan adanya perayaan yang dilakukan secara bersamaan, masyarakat NTB menunjukkan bahwa keberagaman bukanlah penghalang, tetapi justru menjadi fondasi yang kokoh untuk perdamaian dan kesejahteraan bersama.













