Mudik yang Penuh Makna di Area Parkir Rest Area
Di tengah keramaian arus mudik Lebaran, sebuah momen sederhana namun penuh makna terjadi di rest area KM 228 A Tol Kanci-Pejagan. Lokasi ini berada di Desa Jatirenggang, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Cirebon. Saat itu, Rabu (18/3/2026) sore, sekeluarga besar memilih untuk menggelar buka puasa bersama di area parkir, meskipun kondisi lalu lintas sedang padat.
Tidak seperti biasanya, di antara deretan mobil yang terparkir rapat dan lalu lalang kendaraan yang tidak henti, keluarga tersebut justru menciptakan suasana hangat layaknya piknik sederhana. Mereka duduk melingkar di samping kendaraan, dengan alasan tikar seadanya. Mereka menikmati hidangan yang dibawa dari rumah, membuat suasana menjadi lebih akrab dan hangat.
Tawa dan obrolan ringan mengalir, mengurangi rasa lelah dari perjalanan panjang menuju kampung halaman. Berbagai menu makanan dan minuman tersaji rapi dalam wadah rantang dan kotak plastik. Namun, yang menarik adalah, hidangan tersebut tidak berasal dari gerai di rest area, melainkan hasil masakan sendiri yang sudah dipersiapkan sebelum berangkat.
Sukirno (49), salah satu perwakilan keluarga, menjelaskan bahwa kebiasaan ini sudah menjadi tradisi turun-temurun dalam keluarganya. “Kita kan sudah budaya keluarga besar. Jadi ke mana-mana pun kita berangkat bareng-bareng, nyiapin makanan dan bawa sendiri,” ujarnya saat ditemui di lokasi.
Ia menambahkan bahwa membawa bekal dari rumah bukan hanya soal penghematan, tetapi juga tentang kenyamanan dan kebersamaan yang sudah melekat. “Kadang kalau pengin nambah, baru kita beli lagi. Misalkan anak kecil pengin apa, ya kita belikan. Tapi kalau buat orang tua, itu sudah biasa bawa masakan sendiri dari rumah,” katanya.
Keluarga tersebut diketahui berangkat dari Pasar Rebo, Jakarta Timur, menuju Boyolali, dalam rombongan besar yang mencakup lintas generasi. “Iya, sudah rutin setiap tahun seperti ini,” jelas Sukirno.
Dalam perjalanan mudik kali ini, mereka membawa sekitar empat mobil yang diisi oleh anggota keluarga mulai dari orang tua hingga cucu. “Ini ada empat mobil. Ini satu keluarga, itu bapak saya, lalu ini anaknya tiga. Jadi ini anak dan cucu semua,” tambahnya.
Di tengah hiruk pikuk arus mudik Lebaran, momen sederhana ini menjadi gambaran bahwa perjalanan pulang bukan sekadar soal sampai tujuan. Lebih dari itu, mudik adalah tentang menciptakan kenangan, menjaga tradisi, dan merawat kehangatan keluarga, bahkan dari pinggir parkiran rest area sekalipun. Momen seperti ini menunjukkan bahwa nilai-nilai keluarga masih terjaga, meski di tengah kesibukan dan kepadatan arus mudik.












