Pemudik Memadati Bandara Minangkabau Jelang Lebaran 2026
Pemandangan yang menggambarkan perayaan Lebaran 2026 mulai terlihat di kawasan Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Kamis (19/3/2026) pagi. Ratusan pemudik terlihat memadati bandara, menunjukkan antusiasme yang tinggi menjelang hari raya keagamaan tersebut.
Cuaca yang mendung tidak mengurangi semangat para pemudik dan keluarga yang menunggu. Langit yang gelap justru memberikan suasana yang hangat bagi para pengunjung yang sedang bersiap untuk bertemu dengan orang-orang tercinta.
Di balik pintu terminal domestik, berbagai suara pengumuman kedatangan pesawat terdengar berkumandang. Suara itu bersahut-sahutan dengan langkah kaki para penjemput yang tampak gugup dan penuh harapan.
Beberapa dari mereka tampak sibuk dengan ponsel mereka, mencoba merekam momen penting yang telah lama dinantikan. Satu per satu pemudik mulai keluar dari pintu kedatangan, wajah mereka terlihat lelah setelah perjalanan panjang, tetapi seketika berubah menjadi senyum hangat saat melihat keluarga yang menunggu.
Di tengah kerumunan itu, Rival Lidra (28), seorang perantau asal Batipuh, Tanah Datar, tampak melangkah keluar dengan mata berbinar. Meski sebagian wajahnya tertutup masker putih, kebahagiaan terlihat jelas dari sorot matanya.
Rival, yang bekerja di bidang marketing di Jakarta, mengaku bahwa momen pulang kampung selalu menjadi agenda wajib setiap tahun. “Pulang kampung itu rutin sekali setahun,” katanya dengan senyum hangat.
Bagi Rival, perjalanan pulang bukan hanya sekadar rutinitas, tetapi juga merupakan perjalanan menuju rasa yang tak tergantikan dengan keluarga. “Yang pasti yang dicari itu orang tua dan keluarga. Ini momen untuk melepas rindu,” ujarnya.
Kerinduan itu, menurutnya, tidak hanya tentang pertemuan, tetapi juga tentang hal-hal sederhana yang tidak bisa ditemukan di tempat perantauan. Salah satunya adalah masakan rumah. “Tentu yang paling dicari itu masakan orang tua. Itu yang paling dirindukan oleh orang rantau,” tambahnya.
Ia pun tidak menyangkal bahwa ada beberapa menu khas yang selalu terbayang sejak jauh hari sebelum pulang. “Semua masakan orang tua dirindukan, terutama rendang dan sambal ikan bilih dari Danau Singkarak. Itu yang paling dikangenin,” ujarnya.
Di tengah cuaca yang masih mendung, suasana di BIM justru terasa hangat. Setiap pelukan dan senyum yang terukir menjadi bukti bahwa Lebaran bukan hanya tentang hari raya, tetapi juga tentang perjalanan pulang menuju orang-orang yang selalu dirindukan.













