Tanggapan Pengelola Pantai Mutun terhadap Rencana Pelebaran Jalan RE Martadinata
Staf pengelola Pantai Mutun, Rahmad Afandi, memberikan tanggapan terkait rencana Pemerintah Provinsi Lampung untuk melakukan pelebaran jalan di sepanjang ruas Jalan RE Martadinata hingga Padang Cermin, Kabupaten Lampung Selatan. Menurutnya, kebijakan tersebut bukan lagi sekadar wacana, tetapi sudah menjadi kebutuhan mendesak yang perlu segera direalisasikan.
Afandi menilai bahwa pelebaran jalan akan sangat membantu memperlancar akses transportasi, khususnya bagi masyarakat dan wisatawan yang melintas di jalur tersebut. Ia juga menekankan bahwa akses pulang pergi menuju kawasan wisata akan menjadi lebih mudah dan nyaman.
“Kami sangat mendukung rencana ini. Setidaknya bisa mempermudah jalur akses, baik jalur masuk maupun pulang,” ujarnya pada Kamis (12/3/2026).
Kondisi Jalan yang Sempit dan Dampaknya pada Pariwisata
Menurut Afandi, kondisi jalan yang sempit menjadi penyebab utama kemacetan yang sangat parah. Hal ini memberikan citra kurang baik bagi pariwisata Lampung karena akses menuju lokasi seringkali menjadi perjalanan yang melelahkan bagi para pengunjung.
“Kalau jalan lebar, pastinya mengurangi kemacetan yang crowded, apalagi kalau liburan panjang atau libur hari raya,” ucapnya.
Ia pun memberikan gambaran nyata mengenai kondisi di lapangan saat puncak liburan tiba. Antrean kendaraan bisa mengular hingga berkilo-kilometer dari titik krusial menuju pintu masuk wisata. Pihaknya mencatat, kemacetan yang timbul di ruas RE Martadinata bisa menghabiskan durasi bagi wisatawan untuk sampai ke tujuan.
“Ketika momen liburan seperti tahun baru atau lebaran, bisa dua jam baru sampai dari Bandar Lampung ke Mutun,” kata dia.
“Yang parah dari pom Lempasing sampai Mutun banyak kejebak macet,” tambahnya.
Padahal, dalam kondisi normal, jarak dari SPBU Lempasing ke Mutun tergolong sangat dekat, tak membutuhkan waktu lebih dari 30 menit.
Dampak Kemacetan terhadap Kepuasan Wisatawan
Lebih lanjut, Afandi menjelaskan bahwa kemacetan ini berdampak langsung pada kepuasan wisatawan. Waktu yang seharusnya digunakan untuk bersantai dan menikmati suasana pantai justru habis terbuang di dalam kendaraan akibat sirkulasi jalan yang buntu.
Menurutnya, selama ini wisatawan yang datang dari jauh seringkali harus berangkat dan pulang lebih awal agar tidak terjebak kemacetan.
“Artinya yang tadinya menghabiskan waktu di pantai itu bisa sampai 5 jam, ini cuma bisa di pantai itu paling cuma 3 jam,” jelas Fandi.
Harapan Pihak Pengelola terhadap Pemerintah
Pihak pengelola berharap pemerintah segera merealisasikan pelebaran jalan ini agar ekonomi dari sektor pariwisata dapat tumbuh maksimal. Infrastruktur yang lancar diyakini akan meningkatkan frekuensi kunjungan wisatawan, hingga menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar.












