Masalah Pasokan dan Persaingan di Pasar Daging Sorong
Menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah/2026 Masehi, para pedagang daging sapi di Pasar Sentral Remu, Kota Sorong, Papua Barat Daya, mulai mengeluhkan kondisi pasar yang kian sulit. Kondisi ini terjadi karena beberapa faktor yang saling berkaitan, termasuk pasokan sapi yang menipis dan persaingan dengan penjual daging daring (online) yang dinilai merusak harga pasar.
Salah satu pedagang di Pasar Remu mengungkapkan bahwa pasokan sapi dari wilayah Seram yang biasanya menjadi tumpuan stok Lebaran saat ini mengalami kekosongan. Jika pun tersedia, harga beli dari tingkat peternak sudah melonjak tajam. Ia menjelaskan bahwa biasanya menjelang Lebaran pasokan dari Seram itu melimpah, tapi sekarang kosong. Kalaupun ada, harganya sudah tinggi, sehingga otomatis harga jual daging di pasar ikut naik.
Saat ini, harga daging sapi di Pasar Remu rata-rata dibanderol Rp150 ribu per kilogram. Melambungnya harga ini dipicu oleh rantai biaya operasional yang panjang. Pedagang harus merogoh kocek untuk transportasi sapi sebesar Rp250 ribu per ekor, biaya pemotongan Rp80.000, hingga biaya distribusi sekitar Rp100 ribu belum termasuk pajak dan retribusi pasar.
Persaingan dengan Penjual Online
Persaingan dengan penjual online selain masalah stok, pedagang pasar merasa terjepit oleh maraknya penjualan daging via media sosial. Mereka menilai penjual online memiliki keuntungan yang tidak adil karena tidak terbebani biaya retribusi pasar maupun pajak resmi.
“Kami jualan resmi dan bayar retribusi. Sementara yang online itu tidak jelas (regulasinya), tapi bisa jual lebih murah. Ini yang membuat kami sulit bersaing,” keluhnya.
Selain itu, pedagang juga menyoroti masalah keamanan pangan dan legalitas asal daging tersebut. Mengingat maraknya kasus pencurian ternak, pedagang berharap pemerintah melalui instansi terkait segera melakukan penertiban.
Keberadaan Daging yang Tidak Jelas Asalnya
“Kita tidak tahu asal dagingnya dari mana. Sering ada kejadian sapi hilang, tahu-tahu tinggal kepalanya saja. Ini perlu diawasi supaya konsumen aman dan persaingan tetap sehat,” pungkasnya.
Biaya Operasional yang Tinggi
Biaya operasional yang tinggi menjadi salah satu tantangan utama bagi para pedagang. Transportasi, pemotongan, dan distribusi adalah beberapa komponen biaya yang memengaruhi harga akhir daging. Selain itu, pajak dan retribusi pasar juga turut berkontribusi pada kenaikan harga. Hal ini membuat para pedagang kesulitan untuk menetapkan harga yang kompetitif, terlebih ketika mereka harus bersaing dengan penjual online yang tidak terkena beban biaya serupa.
Kebijakan yang Diperlukan
Dari segi regulasi, para pedagang berharap adanya kebijakan yang lebih jelas dan transparan, khususnya terkait dengan penjualan daging secara daring. Mereka menilai bahwa sistem yang tidak teratur dapat menyebabkan ketidakadilan dalam persaingan. Selain itu, pemerintah juga diminta untuk meningkatkan pengawasan terhadap sumber daging agar keamanan pangan tetap terjaga.
Tantangan di Masa Depan
Para pedagang di Pasar Remu menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Dari sisi pasokan hingga regulasi, semua aspek ini berdampak pada bisnis mereka. Dengan situasi seperti ini, mereka berharap adanya solusi yang dapat membantu memperbaiki kondisi pasar dan memberikan perlindungan yang lebih baik bagi para pelaku usaha.












