Pergerakan IHSG yang Mengkhawatirkan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan penurunan pada akhir pekan ini. Dalam seminggu terakhir, IHSG mengalami penurunan sebesar 3,22% dan pada hari Jumat (13/3/2026), indeks tersebut ditutup melemah sebesar 3,05% di level 7.137,21. Pelemahan ini diperkirakan akan berlanjut dalam beberapa hari ke depan.
Menurut analis senior dari Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, IHSG masih berpotensi mengalami fluktuasi pada perdagangan awal pekan depan. Secara teknikal, ia memproyeksikan bahwa support IHSG berada di level 7.117 dan 7.005. Sementara itu, resistance IHSG diperkirakan berada di kisaran 7.222 hingga 7.482.
Pengaruh Ketegangan Geopolitik di Timur Tengah
Nafan menjelaskan bahwa tekanan terhadap IHSG terutama dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Konflik yang melibatkan Iran masih berlangsung tanpa tanda-tanda akan segera mereda. Bahkan, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, disebut mengancam akan meningkatkan serangan terhadap Iran setelah muncul laporan bahwa Teheran menempatkan ranjau laut di Selat Hormuz.
Kondisi ini menyebabkan harga minyak dunia menguat karena meningkatnya ketegangan geopolitik dan gangguan jalur energi di Selat Hormuz. Lonjakan harga minyak tersebut turut meningkatkan kekhawatiran terhadap risiko inflasi global. Hal ini juga berpotensi membuat bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, lebih berhati-hati dalam mengambil kebijakan pemangkasan suku bunga.
Data Inflasi dan Kebijakan Moneter
Data inflasi Amerika Serikat terbaru menunjukkan kenaikan sebesar 0,3% secara bulanan atau month on month (MoM) dan 2,4% secara tahunan atau year on year (YoY). Angka tersebut dinilai membuat The Fed cenderung lebih prudent dalam menentukan arah kebijakan moneternya.
Nafan menambahkan bahwa dinamika global ini juga berdampak pada kebijakan moneter di dalam negeri. Bank Indonesia dinilai menghadapi dilema karena kenaikan harga energi global berpotensi meningkatkan beban subsidi energi serta menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Selain itu, risiko inflasi dan pelemahan nilai tukar rupiah juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan oleh otoritas moneter.
Sentimen Investor dan Pola Pergerakan IHSG
Senada dengan Nafan, Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai bahwa pelemahan IHSG sepanjang pekan ini masih didominasi oleh tekanan jual dari investor. Menurutnya, beberapa sentimen global turut mempengaruhi dinamika pasar saham domestik selama sepekan terakhir.
“Selama sepekan IHSG masih bergerak terkoreksi dan didominasi tekanan jual. Sentimen utamanya berasal dari konflik geopolitik di Timur Tengah, rilis data inflasi Amerika Serikat yang masih bertahan di level 2,4% YoY, serta sikap investor yang cenderung wait and see menjelang libur panjang Nyepi dan Idul Fitri,” ujarnya.
Herditya menambahkan bahwa secara historis, pola pergerakan IHSG pada periode Ramadan cenderung membentuk pola U-shape, di mana indeks berpotensi melemah di awal periode sebelum berangsur pulih mendekati akhir Ramadan.












