Harga Plastik dan Kemasan Naik Jelang Lebaran 2026
Harga produk plastik dan kemasan mengalami kenaikan yang signifikan menjelang Lebaran 2026. Lonjakan ini disebabkan oleh gangguan dalam rantai pasok global, terutama akibat konflik di kawasan Timur Tengah yang menghambat distribusi bahan baku petrokimia.
Sekretaris Jenderal Inaplas, Fajar Budiono, menjelaskan bahwa masalah utama berasal dari sisi hulu, yaitu terhambatnya pasokan bahan baku seperti minyak dan nafta.
“Sebenarnya bukan kenaikan harga, tapi pergantian harga. Karena adanya konflik ini, suplai bahan baku dari hulu terhambat, baik minyak maupun nafta yang tidak bisa keluar dari Selat Hormuz,” ujarnya, Kamis (19/3/2026).
Harga Bahan Baku Melonjak
Gangguan logistik global memicu kenaikan signifikan harga bahan baku dalam waktu singkat. Berikut pergerakan harganya:
- Bahan baku plastik: dari 1.100 dollar AS per ton menjadi 1.400 dollar AS, berpotensi naik hingga 1.600 dollar AS
- Nafta: dari 600 dollar AS menjadi 800 dollar AS, mendekati 900 dollar AS
Kenaikan ini membuat produsen menahan penjualan dan memprioritaskan kontrak lama.
Strategi Industri: Produksi On-Off
Sebagai respons terhadap ketidakpastian pasokan, industri plastik mulai menerapkan strategi produksi on-off. Produksi akan dihentikan saat utilisasi industri hulu berada di bawah 60 persen, dan kembali berjalan ketika bahan baku tersedia.
“Strategi on-off ini kemungkinan akan digunakan dalam jangka menengah,” kata Fajar.
Produk China Berpotensi Dominasi Pasar
Gangguan produksi di Timur Tengah membuka peluang bagi China untuk mengisi pasar ASEAN, termasuk Indonesia. Diperkirakan pada kuartal II dan III 2026, produk plastik dari China akan mendominasi pasar karena pasokan dari Timur Tengah terhambat.
Dampak ke Pedagang Sudah Terasa
Kenaikan harga sudah dirasakan pedagang sejak pertengahan Ramadan. Eci, pedagang di Pasar Bukit Duri, menyebut harga kemasan jenis thinwall naik dari Rp27.000 menjadi Rp30.000 per pak.
Kenaikan harga berkisar Rp2.000 hingga Rp3.000 per pak, menambah beban biaya bagi pelaku usaha kecil.
Tantangan Setelah Lebaran
Stok untuk kebutuhan Lebaran masih relatif aman karena pengiriman telah dilakukan lebih awal. Namun, tekanan diperkirakan muncul setelah Lebaran. Dampak signifikan diprediksi mulai terasa sekitar H+10 Lebaran, ketika stok menipis dan pasokan belum sepenuhnya pulih.
Selain itu, pemulihan fasilitas petrokimia di kawasan Timur Tengah diperkirakan memakan waktu lama, bahkan hingga 6 bulan sampai 1 tahun setelah konflik mereda. Kondisi ini membuat industri harus lebih cermat dalam mengelola stok dan strategi produksi ke depan.













