Korban Kecelakaan Tol Semarang-Batang Tuntut Tanggung Jawab PO Haryanto
I Gede Pasek Suardika, seorang politikus nasional dan mantan jurnalis asal Bali, menjadi salah satu korban kecelakaan beruntun di Tol Semarang–Batang. Ia menuntut pertanggungjawaban dari PO Haryanto dan menuding adanya upaya “cuci tangan” dari pihak terkait.
Pernyataan tersebut muncul setelah pemilik PO Haryanto menyatakan bahwa bus yang terlibat dalam kecelakaan bukanlah milik langsung manajemen pusat, melainkan milik agen yang hanya menggunakan nama dan jaringannya. Namun bagi Pasek, pernyataan ini tidak bisa menjadi alasan untuk lepas tanggung jawab.
Menurutnya, penggunaan nama, atribut, maupun sistem operasional PO tetap mengikat tanggung jawab perusahaan di mata publik. “PO Haryanto harus ikut tanggung jawab karena walau mau cuci tangan, terbukti bus tersebut selain pakai nama PO Haryanto juga ada kerja sama di antara pengelola,” ujarnya.
Pasek juga menyayangkan pernyataan yang beredar di media sosial. “Saya menyesalkan upaya cuci tangan seperti yang diungkapkan di medsos oleh pemiliknya,” imbuh dia.
Selain menuntut ganti rugi, Pasek juga mendesak pemerintah, khususnya Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk menertibkan praktik “pinjam bendera” yang dinilainya berbahaya. “Praktik pinjam bendera ini membahayakan karena merugikan masyarakat. PO Haryanto harus dimintai tanggung jawab, jangan hanya operatornya,” tegas dia.
Dia bahkan meminta sanksi tegas diberikan. “Saya minta Kemenhub beri sanksi praktik pinjam bendera secara ilegal, apalagi kemudian dijadikan sarana cuci tangan dan lepas tanggung jawab. Ini urusannya keselamatan dan nyawa orang,” lanjutnya.
Kronologi Kecelakaan Beruntun
Kecelakaan itu terjadi pada Minggu (15/3/2026) sekira pukul 15.45 di KM 361+600 Jalur A Tol Semarang–Batang, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang. Saat itu, Pasek bersama putrinya, Putu Devi Narasari, dalam perjalanan dari Jakarta menuju Kota Surakarta menggunakan mobil Chery J6 berpelat B 1194 BDV.
Mereka baru saja melanjutkan perjalanan sekira 30 menit setelah beristirahat di rest area, dengan posisi kendaraan dikemudikan oleh putrinya. “Dari Jakarta mau ke Solo. Kebetulan di rest area baru berganti pengemudi. Saat itu dikemudikan anak saya dan saya duduk di depan di sebelahnya. Sementara sopir, saya minta istirahat duduk di tengah,” jelas dia.
Memasuki lokasi kejadian, arus lalu lintas dilaporkan mulai melambat. Namun dari arah belakang, sebuah bus PO Haryanto berpelat S 7428 UN melaju kencang dan diduga tidak mampu mengendalikan laju kendaraan. “Jelas busnya ugal-ugalan kalau melihat dari dua dashcam yang ada. Walau mengaku sudah berusaha mengerem, nyatanya di dashcam terlihat kecepatannya tinggi,” ungkap Pasek.
Bus tersebut kemudian menabrak beruntun sejumlah kendaraan di depannya, dengan total kendaraan terlibat diperkirakan antara lima hingga delapan mobil. Benturan keras dari belakang membuat mobil listrik yang ditumpangi Pasek mengalami kerusakan di bagian belakang. Ban kanan kendaraan pecah dan bodi belakang ringsek hingga harus diderek dari lokasi kejadian.
Pasek juga menyoroti perilaku bus setelah tabrakan awal terjadi. “Setelah menabrak mobil saya yang terakhir, sebenarnya bus terhenti karena benturan. Tapi malah setelah itu tetap melaju, sehingga spion kanan mobil juga ditabrak dan terus ngegas. Jarak berhentinya lebih dari 100 meter,” kata dia.
Selamat Tanpa Luka, Namun Syok
Meski kecelakaan tergolong serius, Pasek dan keluarganya selamat tanpa luka fisik. Dia menyampaikan rasa syukur atas keselamatan tersebut melalui media sosial. “Intinya saya, anak, dan sopir dalam keadaan sehat tanpa ada luka sedikit pun. Semua itu atas doa dan perlindungan Tuhan,” tulisnya.
Namun putrinya dilaporkan sempat mengalami syok akibat kerasnya benturan. Setelah kejadian, Pasek melanjutkan perjalanan ke Solo dengan bantuan rekannya. Sementara putrinya kembali ke Jakarta menggunakan kereta api.













