Harga perak diperkirakan akan terus mengalami fluktuasi dalam beberapa bulan mendatang. Pada Jumat (13/3/2026), harga perak untuk pengiriman Mei 2026 berada pada level US$ 81,34 per ons troi, turun sebesar 4,43% dibandingkan sehari sebelumnya. Namun, sejak awal tahun, harga perak untuk kontrak Mei 2026 telah naik sebesar 3,59%.
Menurut Wahyu Laksono, founder Traderindo.com, kenaikan harga perak yang signifikan disebabkan oleh defisit pasokan struktural. Ia menjelaskan bahwa pasar perak memasuki tahun kelima secara berturut-turut mengalami defisit pasokan. Persediaan fisik di bursa utama seperti COMEX dilaporkan anjlok signifikan, lebih dari 70% sejak 2020, menciptakan kondisi kelangkaan fisik yang nyata.
Selain itu, lonjakan permintaan dari sektor panel surya (fotovoltaik), kendaraan listrik (EV), dan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) memberikan dukungan fundamental yang tidak dimiliki emas secara masif. Hal ini menjadi salah satu faktor pendorong kenaikan harga perak.
Beberapa sentimen lain juga turut memengaruhi harga perak. Pertama, ketidakpastian mengenai arah suku bunga The Fed dengan narasi “higher for longer” membuat investor mencari alternatif investasi yang lebih stabil. Kedua, kekhawatiran terhadap inflasi jangka panjang akibat tingginya harga energi, terutama minyak yang berada di atas US$ 100 per barel, mendorong investor beralih ke logam mulia sebagai pelindung nilai.
Wahyu menilai bahwa kenaikan harga perak bukan sekadar lonjakan sesaat, melainkan bagian dari tren bullish jangka panjang yang berpotensi berlanjut. Ia menyatakan bahwa tren ini didorong oleh permintaan industri yang semakin meningkat, terutama di sektor teknologi hijau dan AI.
Sejalan dengan pandangan Wahyu, Sutopo Widodo, Presiden Komisaris HFX International Berjangka, mengatakan potensi kenaikan harga perak jangka panjang tetap terbuka lebar. Meskipun saat ini tekanan jangka pendek akibat penguatan Dolar AS tampak dominan, normalisasi rantai pasok dan pemulihan sektor manufaktur global dapat menjadi faktor pendukung.
Menurut Sutopo, keberlanjutan tren kenaikan harga perak sangat bergantung pada transisi dari sentimen ketakutan menuju kebutuhan industri yang fundamental. Jika ketegangan geopolitik mulai mereda dan fokus pasar beralih pada defisit pasokan perak dunia untuk kebutuhan teknologi hijau dan AI, maka reli harga yang lebih berkelanjutan menuju level psikologis baru bukanlah hal yang mustahil.
Beberapa faktor eksternal seperti kebijakan moneter bank sentral, perkembangan teknologi, dan stabilitas politik global akan terus memengaruhi dinamika pasar perak. Investor perlu memantau perkembangan ini dengan cermat untuk memperoleh wawasan yang lebih baik mengenai arah pergerakan harga perak dalam waktu dekat maupun jangka panjang.










