Kematian Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran dalam Serangan Udara
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, meninggal dunia bersama putranya dalam serangan udara yang diklaim dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat. Insiden ini terjadi di rumah keluarga Larijani di Pardis, timur laut Teheran, sekitar pukul 03.00 waktu setempat. Kehilangan ini dianggap sebagai pukulan besar bagi politik dan keamanan nasional Iran, yang berpotensi mengganggu koordinasi antara lembaga militer dan politik negara tersebut.
Serangan tersebut menargetkan sebuah rumah milik putri Larijani di kawasan Pardis. Saat insiden terjadi, Larijani diketahui sedang mengunjungi putrinya. Hingga saat ini, belum ada informasi resmi terkait kondisi sang putri. Selain Larijani dan putranya, seorang ajudan serta sejumlah pengikutnya juga tewas dalam serangan tersebut.
Menurut laporan Kantor Berita Fars, serangan tersebut merupakan bagian dari rangkaian serangan udara yang dilancarkan terhadap ibu kota Iran dan wilayah lainnya. Beberapa jam setelah ledakan, beredar kabar di kalangan warga dan sumber lokal mengenai kemungkinan kehadiran sejumlah tokoh penting di lokasi tersebut, termasuk Larijani dan komandan pasukan keamanan internal Iran.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengonfirmasi bahwa Larijani tewas dalam serangan tersebut. Beberapa hari sebelum kematian, Larijani sempat hadir di ruang publik dengan mengikuti aksi unjuk rasa “Hari Quds” di Teheran. Ia bahkan menyampaikan pesan melalui media sosial X bahwa para pemimpin Iran tidak gentar menghadapi tekanan, sekaligus membantah pernyataan Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, yang menyebut para pemimpin Iran bersembunyi.
Latar Belakang Politik dan Karier Ali Larijani
Ali Larijani dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam struktur politik Iran. Ia berasal dari keluarga ulama terkemuka yang memiliki pengaruh besar sejak Revolusi Iran 1979. Sejumlah anggota keluarganya juga menduduki posisi strategis dalam pemerintahan, menjadikan Larijani dikenal sebagai tokoh pragmatis yang memiliki pengaruh besar dalam kebijakan keamanan Iran.
Selain dikenal sebagai politisi, Larijani juga memiliki latar belakang akademis yang kuat. Ia mendalami filsafat Barat dan menulis tesis tentang pemikiran Immanuel Kant. Selain dikenal sebagai intelektual, Larijani juga menjadi figur penting dalam diplomasi Iran, termasuk mendukung kesepakatan nuklir dengan negara-negara Barat pada 2015.
Karier Larijani di pemerintahan Iran terbilang panjang dan beragam. Ia pernah terlibat dalam Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, hingga memimpin lembaga penyiaran negara IRIB. Puncak karier politiknya terlihat saat ia menjabat sebagai Ketua Parlemen Iran selama tiga periode, dari 2008 hingga 2020.
Dilansir The Wall Street Journal, pada tahun 2025, Larijani kembali ke posisi strategis sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. Dalam peran tersebut, ia menjadi salah satu arsitek utama strategi keamanan Iran, terutama dalam menghadapi meningkatnya tekanan militer dari Amerika Serikat dan Israel. Ia juga berperan penting dalam koordinasi respons militer, termasuk peluncuran rudal balasan serta menjaga stabilitas domestik.
Dampak Kematian Larijani terhadap Iran
Kematian Larijani dinilai sebagai pukulan besar bagi Iran, tidak hanya dari sisi politik tetapi juga keamanan nasional. Banyak analis menyebut kehilangan ini dapat memengaruhi koordinasi antara lembaga militer, keamanan, dan politik di negara tersebut. Larijani selama ini dianggap sebagai penghubung kunci yang mampu menjaga keseimbangan di antara berbagai institusi penting Iran.













