Peningkatan Kapasitas Feri untuk Menghadapi Arus Mudik
Selama musim mudik dan balik, khususnya di lintas penyeberangan Jawa-Bali, armada feri berkapasitas besar akan dikerahkan guna memastikan kelancaran perjalanan pemudik. Tujuan utamanya adalah mengurangi penumpukan kendaraan serta meningkatkan kapasitas angkut dalam satu kali perjalanan.
Saat ini, jumlah kapal yang beroperasi di lintas Ketapang-Gilimanuk mencapai 55 unit. Namun, tidak semua kapal beroperasi setiap hari. Dalam kondisi normal, sebanyak 28 kapal digunakan. Namun, selama periode Lebaran, jumlah kapal harian meningkat menjadi antara 30 hingga 32 unit.
Strategi Penggunaan Kapal Jumbo Berkapasitas 200 Kendaraan
GM ASDP Ketapang, Arief Eko, menjelaskan bahwa terdapat delapan kapal jumbo dengan kapasitas sekitar 200 kendaraan campuran yang tersedia di Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk. Kapal-kapal ini akan beroperasi selama periode H-7 Lebaran hingga setelah Nyepi.
“Kami bekerja sama dengan BPTD dan KSOP agar seluruh kapal besar yang ada di Ketapang bisa beroperasi,” ujarnya pada Sabtu (14/3/2026). Penambahan kapal besar ini bertujuan untuk meningkatkan daya tampung kendaraan dan penumpang, sehingga proses penguraian antrean kendaraan di pelabuhan dapat lebih cepat.
Tidak menutup kemungkinan, kapal tambahan akan didatangkan jika diperlukan. Namun, saat ini, kapal yang disiagakan masih mampu memenuhi kebutuhan.
Pengaturan Antrean Melalui Buffer Zone
Untuk mencegah antrean kendaraan yang terlalu padat, pihak pelabuhan menyediakan area parkir sementara di luar pelabuhan atau buffer zone. Area buffer zone disediakan di Watudodol dan Dermaga Bulusan.
“Selain itu, kami juga bekerja sama dengan dinas terkait yang memiliki beberapa lokasi cadangan apabila kondisi antrean menjadi ekstrem,” ujar Arief. Setiap buffer zone memiliki kapasitas yang berbeda-beda. Beberapa area mampu menampung antara 50 hingga 200 kendaraan.
Buffer zone di Dermaga Bulusan menjadi yang terbesar karena mampu menampung ratusan truk ukuran besar. Saat Pelabuhan Ketapang ditutup karena Nyepi, area ini menjadi salah satu tempat penampungan truk yang tidak bisa menyeberang.
Kesiapan Pihak Terkait
Pihak ASDP dan instansi terkait terus berkoordinasi untuk memastikan kelancaran arus mudik. Tidak hanya fokus pada pengoperasian kapal, tetapi juga pada pengelolaan antrean kendaraan di luar pelabuhan.
Strategi ini diharapkan mampu mengurangi kepadatan di jalan raya dan memberikan kenyamanan bagi para pemudik. Dengan kombinasi peningkatan jumlah kapal dan penggunaan buffer zone, diharapkan arus mudik dan balik dapat berjalan lancar tanpa mengganggu kenyamanan masyarakat.
Kesimpulan
Penggunaan kapal jumbo dan strategi buffer zone menjadi dua langkah penting dalam menghadapi arus mudik yang tinggi. Dengan peningkatan kapasitas dan koordinasi yang baik antara pihak pelabuhan dan instansi terkait, diharapkan pemudik dapat tiba di tujuan dengan aman dan nyaman.












