Krisis Rudal yang Mengancam Keselamatan dan Stabilitas
Bukti di lapangan semakin memperkuat bahwa Amerika Serikat (AS) menghadapi tantangan besar dalam menghadapi serangan balasan dari Iran. Kekhawatiran terhadap krisis rudal pencegat makin nyata, karena Iran telah meluncurkan lebih dari 500 rudal ke wilayah Israel serta aset-aset militer AS di berbagai negara di Timur Tengah. Situasi ini memaksa AS untuk melakukan tindakan yang justru menimbulkan kepanikan di Korea Selatan.
Kepanikan warga Korea Selatan terjadi setelah AS mengambil langkah dengan memindahkan sistem pertahanan udara mereka dari Korea Selatan ke wilayah Timur Tengah. Langkah ini dilakukan pada hari ke-12 perang antara Iran dan AS serta Israel. Keputusan ini menyusul laporan bahwa Iran berhasil menghancurkan radar utama THAAD di Yordania, yang bernilai 300 juta dolar AS. Relokasi ini menimbulkan kemarahan dan protes dari masyarakat Korea Selatan, yang khawatir tindakan tersebut akan menjadikan mereka sebagai target yang lebih besar.
Sistem Pertahanan Udara THAAD
Sistem anti-rudal THAAD, yang dibuat oleh perusahaan AS Lockheed Martin, mencakup enam peluncur terpasang, dengan delapan pencegat pada setiap peluncur, serta sistem radar untuk deteksi. Rudal ini dapat menembak jatuh rudal balistik jarak pendek dan menengah menggunakan teknologi hit-to-kill. Artinya, energi kinetik digunakan untuk menghancurkan hulu ledak yang masuk. THAAD dapat melakukan hal ini di ketinggian, bahkan di luar atmosfer bumi, yang sangat berguna di Korea Selatan untuk mencegat dan menghancurkan hulu ledak nuklir.
Media Korea Selatan seperti SBS dan Yonhap melaporkan bahwa peluncur THAAD sudah diangkut keluar dari pangkalan udara Seongju, di selatan Seoul. Presiden Lee Jae-myung mengakui bahwa Seoul telah “menyatakan penolakan” terhadap penarikan senjata AS. Ia menyampaikan hal ini dalam rapat kabinet, menyoroti kontroversi baru-baru ini mengenai pasukan AS yang mengirimkan sejumlah senjata, seperti baterai artileri dan senjata pertahanan udara, ke luar negeri.
Ancaman dari Korea Utara
Kepanikan Korea Selatan wajar karena beberapa hari sebelumnya, Korea Utara baru saja melakukan uji coba dengan meluncurkan 10 rudal balistik ke wilayah dekat perairan Korea Selatan dan Jepang. Sumber militer Korea Selatan menyatakan bahwa Korea Utara menembakkan lebih dari 10 rudal balistik ke laut pada hari Sabtu, saat pasukan AS dan Korea Selatan melakukan latihan militer. Pasukan penjaga pantai Jepang mengatakan telah mendeteksi sesuatu yang kemungkinan adalah rudal balistik yang jatuh ke laut. Rudal itu tampaknya jatuh di luar zona ekonomi eksklusif Jepang, kata lembaga penyiaran publik NHK, mengutip militer.
Rudal-rudal tersebut diluncurkan dari daerah dekat ibu kota Pyongyang, sekitar pukul 13.20, menuju laut di lepas pantai timur negara itu, kata kepala staf gabungan Korea Selatan dalam sebuah pernyataan. Korea Utara telah melakukan uji coba peluncuran berbagai macam rudal balistik dan rudal jelajah selama lebih dari dua dekade dalam upaya mengembangkan sarana untuk mengirimkan senjata nuklir, yang diyakini telah berhasil dibangunnya.
Kondisi yang Mengkhawatirkan
Sejumlah analisis militer sebelumnya memperkirakan bahwa AS dan Israel akan menghadapi krisis rudal pencegat untuk mengantisipasi serangan rudal dan drone kamikaze Iran. Terbukti, rudal-rudal yang diluncurkan Iran tidak sepenuhnya dapat dihalau oleh sistem pertahanan udara Israel dan AS. Israel yang memiliki sistem pertahanan udara berlapis yakni Iron Dome, David’s Sling, Arrow dan terminal bantuan AS, THAAD, ternyata tak mampu menahan gempuran rudal Iran yang menghajar wilayah Israel.
Bahkan bukti terbaru menunjukkan bahwa seorang jurnalis Israel mengakui bahwa sistem pertahanan udara Israel tidak mampu menghalau rudal-rudal Iran yang terus menghajar wilayah Israel. Menurutnya, rudal-rudal Iran mampu menghadapi rudal-rudal pencegat Israel, karena rudal Iran mampu memecah menjadi 6 bagian saat akan menghantam wilayah Israel.
AS juga menghadapi kewalahan menghadapi rudal-rudal Iran yang telah menghancurkan sejumlah aset militer mereka di sejumlah negara di Timur Tengah. Sebuah laporan memperkirakan bahwa hingga hari ke-4 perang saja, AS sudah mengalami kerugian mencapai sekitar 2 miliar dolar atau setara Rp 34 triliun akibat kerusakan yang dialami aset-aset militer AS di sejumlah negara di Timur Tengah.












