Fakta-Fakta di Balik Tragedi Kecelakaan Maut di Minahasa Selatan
Tragedi kecelakaan mobil yang menewaskan dua PNS, Fanni Anelsia Mustaki dan Yessi Sukersi Mustaki, mengundang duka mendalam bagi keluarga, rekan kerja, dan masyarakat luas. Kedua korban meninggal dunia setelah mobil yang mereka tumpangi melaju dengan kecepatan tinggi dan kehilangan kendali di Jalan Trans Sulawesi, Desa Sapa, Kecamatan Tenga, Kabupaten Minahasa Selatan.
Sosok Korban: Dedikasi Guru dan Humas Intelijen
Yessi Sukersi Mustaki (41) adalah seorang guru Bahasa Inggris di SMA Negeri 5 Gorontalo. Di mata para murid dan rekan sejawat, ia dikenal sebagai pendidik yang sabar dan ramah. Ia tidak pernah memarahi siswa yang kesulitan belajar dan selalu bersedia mengulang materi dari awal demi pemahaman muridnya. Widiastuti, mantan siswa Yessi, menyebutkan bahwa beliau sangat welcome saat mengajar dan sangat humble juga.
Sementara itu, adik Yessi, Fanny Anelsia Mustaki, bekerja sebagai Pranata Humas pada bidang Intelijen di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Gorontalo. Rekan kerjanya, Yursin Djafar, mengungkapkan bahwa Fanny bukan sekadar teman sekantor, melainkan sosok yang dikenal sangat ramah, mudah bergaul, dan selalu membawa suasana hangat di lingkungan kerja. Ia mengenang bagaimana almarhumah masih beraktivitas seperti biasa dan bertegur sapa dengan rekan-rekannya pada Jumat sebelum kejadian.
Kronologi Kejadian di Jalur Trans Sulawesi
Peristiwa nahas ini bermula saat kedua korban melakukan perjalanan darat dari arah Gorontalo menuju Kota Manado. Mereka menumpangi mobil PO Garuda dengan nomor polisi DM 1195 BA yang dikemudikan oleh sopir bernama Ismail Zees (47). Tujuan perjalanan mereka adalah untuk mengunjungi ibu mereka di Manado dalam rangka mengisi waktu liburan.
Namun, perjalanan yang seharusnya penuh kebahagiaan tersebut justru berubah menjadi tragedi memilukan di Jalan Trans Sulawesi. Mobil yang mereka tumpangi dilaporkan melaju dengan kecepatan tinggi sebelum akhirnya pengemudi kehilangan kendali atas kendaraannya. Mobil berwarna hitam tersebut kemudian keluar dari badan jalan dan menabrak sebuah pohon serta bangunan rumah makan di pinggir jalan.
Kondisi kendaraan dilaporkan mengalami kerusakan parah atau ringsek akibat benturan keras yang terjadi di lokasi kejadian. Berdasarkan data dari pihak kepolisian, terdapat empat orang korban dalam insiden ini, di mana dua di antaranya dinyatakan meninggal dunia. Fanny Anelsia Mustaki dan Yessi Sukersi Mustaki menjadi korban jiwa dalam kecelakaan yang terjadi pada Sabtu pagi tersebut.
Niat Mengunjungi Ibu di Masa Libur
Perjalanan darat yang ditempuh kedua korban bukanlah perjalanan dinas, melainkan perjalanan keluarga yang didasari rasa rindu. Keduanya berniat menuju Kota Manado, Sulawesi Utara, untuk mengunjungi ibu mereka dalam rangka mengisi waktu libur. Harapan untuk berkumpul bersama keluarga di kampung halaman seketika berubah menjadi tragedi memilukan bagi pihak keluarga yang telah menanti kedatangan mereka.
Korban Luka dan Proses Evakuasi Medis
Dalam kecelakaan tunggal tersebut, terdapat total empat orang di dalam kendaraan. Selain Fanny dan Yessi yang meninggal dunia di lokasi kejadian akibat luka serius, sang pengemudi, Ismail Zees, mengalami luka berat dan harus segera dilarikan ke RSUD Teep Minsel untuk penanganan intensif. Sementara itu, satu penumpang lainnya bernama Doni Tentero (45) dikabarkan selamat dengan luka ringan.
Pihak Satlantas Polres Minsel segera melakukan evakuasi dan hingga kini masih terus menyelidiki faktor-faktor penyebab kecelakaan, termasuk kemungkinan faktor teknis kendaraan atau kelalaian manusia.
Pesan Terakhir yang Tak Biasa
Sebuah fakta menyedihkan terungkap mengenai komunikasi terakhir Fanny Anelsia Mustaki sebelum maut menjemput. Menurut tetangga korban, Apris Doda, Fanny menunjukkan gelagat tidak biasa dengan menghubungi pamannya melalui telepon pada malam sebelum kejadian. Biasanya, sang pamanlah yang lebih sering menelepon untuk menanyakan kabar. Dalam percakapan singkat tersebut, Fanny menitipkan pesan agar mobil pribadinya tidak dibawa ke bengkel untuk sementara waktu.
Pesan tersebut menjadi komunikasi verbal terakhir yang diterima pihak keluarga sebelum berita duka sampai ke telinga mereka. Keluarga besar baru mengetahui kabar mengenai kecelakaan yang menimpa Fanni dan Yessi pada pagi hari Sabtu (14/3/2026) sekitar pukul 06.00 Wita.
Penghormatan Terakhir dari Pimpinan Daerah
Sebagai bentuk apresiasi atas pengabdian keduanya sebagai PNS, Pemerintah Provinsi Gorontalo memberikan penghormatan terakhir secara resmi. Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, hadir langsung di rumah duka di Jalan Pangeran Hidayat untuk memimpin prosesi pelepasan jenazah. Tidak hanya Gubernur, Wakil Gubernur Idah Syahidah pun turut hadir mengantarkan kedua jenazah ke tempat peristirahatan terakhir.
Suasana Haru Pemakaman di Rumah Duka
Prosesi pemakaman yang berlangsung pada Minggu (15/3/2026) diwarnai isak tangis yang pecah dari ratusan pelayat. Karena banyaknya jamaah yang hadir, salat jenazah terpaksa dilaksanakan di badan jalan depan rumah duka dengan adik laki-laki korban bertindak sebagai imam. Suasana semakin menyayat hati ketika sang adik tak mampu menahan tangis saat melantunkan takbir.
Setelah seluruh rangkaian prosesi agama dan kedinasan selesai, kedua almarhumah dimakamkan berdampingan di area pemakaman keluarga yang terletak tepat di samping rumah duka mereka di Kelurahan Wongkaditi Barat.














